KUMPULAN TULISAN

Sabtu, 25 September 2010

Menjelajahi Kapal Perang Australia HMAS Arunta dan HMAS Success


* Menjelajahi Kapal Perang Australia
HMAS Arunta dan HMAS Success

Dilengkapi Helikopter Suplai Logistik ke Kapal Perang Lainnya

MAKASSAR beruntung dikunjungi dua kapal perang Australia. Pelajar Makassar, pun tak ingin melepaskan kesempatan untuk melihatnya lebih dekat. Seperti apa kedua kapal perang yang diberi nama HMAS Arunta dan HMAS Success tersebut?

LAPORAN RIDWAN MARZUKI


MEGAH dan mengagumkam. Demikian ungkapan ketika pertama kali melihat kedua kapal tersebut dari dekat. Sejak Jumat, 24 September, kapal perang Australia, HMAS Arunta dan HMAS Succes bersandar di Pelabuhan Makassar. Selama tiga hari hingga Senin, 27 September 2010, kedua kapal tersebut berlabuh di Pelabuhan Peti Kemas Soekarno Hatta Makassar.

Pihak Royal Australian Navy (RUN) atau Angkatan Laut Australia memang sedang berada di Makassar membawa kedua jenis kapal utama mereka. Selama bersandar di Makassar, para pelajar dari berbagai sekolah yang telah ditentukan diberi kesempatan untuk menjelajahi setiap sisi kapal tersebut. Para pelajar memang diberi keistimewaan untuk menyaksikan dan memasuki kedua kapal tersebut.

Saat bersamaan, beberapa pelajar dari beberapa sekolah ikut menjelajahi kapal itu, antara lain pelajar SMAN 17 Makassar, SMA Katholik Rajawali Makassar, SMA Kartika Wirabuana I, SMAN 2 Makassar, SMPN 2 Pattallassang Gowa, dan SMA Islam Athirah. Mereka diberi kesempatan untuk berkeliling dan menyaksikan berbagai fasilitas yang ada di setiap sudut kapal. Selain didampingi guru, rombongan pelajar dipandu oleh petugas khusus yang disiapkan RUN. Dengan ramah, mereka menemani pelajar sambil menjelaskan fungsi setiap bagian yang dilalui serta menjawa pertanyaan yang diajukan oleh mereka yang penasaran.

"Luar biasa. Ini adalah pengalaman pertama saya melihat kapal seperti ini," ujar salah seorang murid kelas tiga IPS SMA Katholik Rajawali, Iswanto. Ia mengaku takjub dengan perlengkapan yang dimiliki kapal HMAS Success. Kebetulan sekolah Iswanto mendapat bagian untuk mengunjungi HMAS Success. Karena setiap sekolah hanya diperkenankan melihat satu kapal dari dua kapal perang yang bersandar secara berdampingan. Ekspresi yang sama diungkapkan rekannya, Alysan. Menurutnya, dengan melihat kapal perang tersebut, setidaknya menambah pengetahuan dan pengalamannya.

Naik di kapal HMAS Success kesannya seperti menaiki kapal biasa. Namun ketika sampai di pintu masuk kapal, pemeriksaan tetap akan dilakukan petugas yang berjaga di situ khususnya bagi pengungjung yang membawa ransel, kendati pemeriksaan sudah dilakukan petugas yang berada di dekat tangga naik kapal. Isi tas diperikas satu persatu. Pengamanan memang diperlukan mengingat begitu pentingnya kegunaan kapal ini.

Iswanto dan rombongannya dipandu dua orang petugas berseragam militer. Salah seorang di antaranya bernama Rachel Entwistle. Perempuan muda ini yang banyak memberi penjelasan kepada mereka terkait hal-hal yang ada di kapal. Ia pula yang mengarahkan para pelajar ini untuk memasuki setiap sisi atau ruangan yang begitu banyak dan kompleks. Terdapat begitu banyak sekat dan ruangan di HMAS Success dengan fungsi yang berbeda.

Setelah melewati pintu samping bagian belakang kapal, pengunjung di ajak memasuki ruang dimana terdapat beberapa mesin yang mirip generator. Lalu berbelok ke kiri menyusuri jalan kecil dan sampai pada sebuah tangga menuju ke atas. Setelah melewati beberapa tangga, akhirnya pengunjung sampai pada ruang kemudi utama di bagian paling depan dari HMAS Success tersebut. Dari sinilah pemandangan bisa melihat laut secara luas di bagian depan. Di tempat inilah kapal dikendalikan arah dan kecepatannya. Menurut Rachel Entwistle, setidaknya ada empat atau lima orang yang bertugas di ruang ini. Tempat untuk nakhoda tepat berada di tengah. Tempat ini dilengkapi sistem radio sebagai alat komunikasi, terdapat juga alat pengukur kemiringan kapal. Di bagian belakang kursi nakhoda, terdapat lemari khusus yang berisi pakaian darurat jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada kapal, misalnya tenggelam.

Setelah dari sana, pengunjung kemudian diajak berkeliling ke bagian tengah kapal seperti bagian kabin serta pantry. Tepatnya setelah menuruni beberapa anak tangga, pengunjung akan sampai pada sebuah ruangan yang sangat sejuk. Namun sebelum sampai ke situ, di sebelah kiri jalan terdapat dapur berukuran luas sementara di sebelah kanan terdapat mini market. Setelah melewati sisi inilah baru tiba di ruangan yang kerap dipakai untuk makan. Di ruangan ini sudah tersedia aneka jenis minuman dingin serta makanan, seperti kue dan buah-buahan.

Dengan ramah Rachel Entwistle menuangkan minuman dingin ke dalam gelas-gelas yang tersedia di dekatnya lalu disuguhkan kepada para pengunjung. Ia juga memberi makanan berupa kue kering sejenis biskuit kepada mereka. Tampak beberapa pelajar menikmatinya sambil beberapa orang di antara mereka tak ingin melewatkan momen tersebut dengan berfoto bersama sang pemandu. "Makanan itu memang disiapkan untuk tamu," ujar Rachel Entwistle.

Kendati Rachel Entwistle tidak bisa berbahasa Indonesia, namun pengunjung dapat mengikutinya secara tertib. Kurang lebih dua jam ia menemani para pelajar berkeiling dalam ruangan kapal yang meiliki fasilitas berbeda antara tempat yang satu dengan lainnya. Terakhir, tempat yang dukunjungi adalah landasan helikopter. Terdapat helikopter yang berukuran sedang yang ditempatkan di bagian belakang kapal bagian atas. Helikopter inilah yang berfungsi sebagai penyuplai ke kapal lainnya. Di bagian ini pula, HMAS Arunta bisa terlihat tepat di sisi HMAS Success.

Baik HMAS Arunta maupun HMAS Succes, merupakan jenis kapal perang yang memiliki spesifikasi dan fungsi berbeda. Dibandingkan HMAS Arunta, HMAS Success ukurannya lebih besar. Memang, HMAS Success merupakan kapal utama yang memiliki fungsi sebagai penyuplai logistik perang, baik bahan bakar, konsumsi, maupun amunisi, serta berbagai kebutuhan lainnya.

HMAS Success ini sebetulnya bukanlah kapal perang yang baru dirakit Australia. Pertama kali dibuat di New South Wales, Sydney oleh perusahaan Cockatoo Dockyard Pty Ltd dan dirilis pada 3 Maret 1984 oleh permaisuri Gubernur Jenderal Australia, Lady Stephen. Kemudian secara resmi, kapal ini diserahkan kepada Angkatan Laut Australia atau biasa disebut Royal Australian Navy (RAN) tepatnya pada 23 April 1986. Sejak saat itu, kapal ini merupakan yang terbesar yang dimiliki Australia. Juga merupakan kapal terbesar pertama yang diproduksi di Pelabuhan Sydney.
Kapal ini merupakan salah satu kapal perang "mewah" yang dimiliki Australia, beratnya mencapai 18 ribu ton dengan panjang badan kapal mencapai 157 meter serta lebar 21 meter. Kendati nama Success itu sendiri bukan yang pertama karena sebelumnya sudah ada nama yang sama, namun kapal ini merupakan varian terbaru untuk nama tersebut. Pada abad ke-17 dan ke-18 nama Success telah digunakan di Inggris juga dengan fungsi sebagai kapal perang.

HMAS Success bisa menyuplai logistik kebutuhan pasukan baik siang maupun malam. Bisa menyuplai ke sesama kapal perang karena memang HMAS Success didesain untuk beroperasi di laut. Fungsi penyaluran barang kebutuhan dalam peperangan menggunakan satu unit helikopter yang diparkir di bagian belakang kapal. Helikopter inilah yang akan menyuplai logistik dan berbagai kebutuhan lainnya kepada pasukan yang ada di kapal perang lainnya. Jadi bisa dibayangkan jika kapal jenis ini tidak ada dalam sebuah peperangan, maka tentu saja baik bahan makanan, bahan bakar, amunisi, dan lainnya akan menjadi tersendat jika tidak ada kapal yang menjalankan tugas seperti ini.

Dengan fungsinya yang sangat vital bagi kelancaran pasokan makanan serta berbagai kebutuhan prajurit lainnya saat berperang, maka keberadaan kapal HMAS Success juga menjadi sasaran serangan sporadis ketika teridentifakasi oleh lawan. Oleh karenanya untuk melindunginya dari serangan musuh, maka sistem perlindungan pun dibuat untuk mengantisipasi khususnya ketika serta-merta kapal ini disergap. Protection system atau sistem perlindungan memang menjadi sangat urgen untuk lancarnya suplai.

Karenanya HMAS Arunta dibuat untuk menjadi pengawal HMAS Success. Peran HMAS Arunta adalah menjadi kapal pelindung terhadap berbagai serangan yang akan menghancurkan kapal utama pembawa logistik, yakni HMAS Success. "HMAS Success adalah kapal yang memuat logistik. Sedangkan HMAS Arunta adalah kapal sergap," ujar Kapten Kapal HMAS Arunta, Commander John Stavridis.

HMAS Arunta sendiri adalah sebuah kapal pengawal yang berfungsi untuk melindungi kapal utama. Kapal dengan nama ini juga sebelumnya sudah pernah ada di armada laut Australia (RAN) dari delapan kapal tipe sejenis yakni untuk kelas Anzac. Kapal ini didasarkan pada kapal pengawal Jerman Meko 200. HMAS Arunta diproduksi oleh angkatan pertahanan laut Australia, di Williamstown, Victoria. Sebelumnya, Arunta pertama diproduksi pada 1942 dan menjadi kapal RAN utama saat Perang Dunia II. Dipakai pada perbatasan New Guinea dan Fasifik 1942-1944, Perang Teluk Leyte 1944, dan Teluk Lingayen 1945.

HMAS Arunta merupakan kapal yang didesain sebagai penjelajah lautan untuk jarak jauh dan mengawal kapal utama pembawa aneka kebutuhan pasukan di perairan. Fungsinya selain sebagai perlindungan atau pertahanan dari serangan sesama kapal perang yang berasal dari laut, juga untuk melindungi kapal utama dari serangan bawah laut maupun serangan via udara. Selain itu, kapal ini berperan sebagai pengintai dan mengobservasi musuh yang ada di sekeliling kapal induk atau utama. Intinya, kapal ini bertugas untuk menghadang serangan, meskipun serangan tersebut simultan dan memborbardir. Untuk menguasai kapal induk, musuh terlebih dahulu harus menguasai atau melumpuhkan HMAS Arunta ini.

Kata "Arunta" yang dipakai menamai kapal pelindung HMAS Success ini, diambil dari nama sala satu suku Aborigin yang ada di Australia. Yaitu suku Arnet yang biasa juga disebut Arunda, yaitu penduduk yang mendiami Australia bagian tengah. Dari nama inilah kemudian diberikan juga nama HMAS Arunta. Kapal ini mengusung motto "Conquer or Die", yang berarti menaklukkan atau mati. Sebuah motto yang mengindikasikan sebuah semangat pantang menyerah dalam berjuang dan melindungi kapal pembawa bahan penting keperluan pasukan di kapal perang lainnya.

Makanya HMAS Arunta dilengkapi dengan sistem persenjataan yang lengkap serta terdiri atas berbagai jenis. Sebut saja secara umum di antaranya, senjata api otomatis berlaju pesat Mk45 Mod 2, sistem senjata peluncur Mk41 yang berfungsi mematahkan serangan misil udara, torpedo Mk32 Mod 5, senjata mesin, serta senjata lainnya yang intinya menghalau serangan dari permukaan laut, kapal selam, dan serangan udara.

Commander John Stavridis menjelaskan, HMAS Success dan HMAS Arunta ukurannya berbeda karena fungsinya juga berbeda. Sebagai kapal penyuplai, maka HMAS Success ukurannya lebih besar. Sedangkan HMAS Arunta lebih kecil karena tugasnya sebagai pengawal. Makanya kecepatan jelajahnya juga berbeda. Kecepatan jangkauan HMAS Success hanya 19 knot per jam sementara HMAS Arunta 28 knot per jam. Satu knot ukurannya setara dengan 1,8 kilometer.

Kedatangannya ke Makassar, kata dia, adalah untuk menjalin persahabatan dengan Angkatan Laut (AL) Indonesia. Kunjungannya bertujuan untuk memperat persahabatan antar kedua pasukan kelautan tersebut. "Kita punya hubungan yang sangat dekat dengan angkatan laut Indonesia. Kita punya hubungan persaudaraan pelaut," ujar John Stavridis yang mengaku sudah tiga kali mengunjungi Indonesia.

Terkait adanya anggapan Indonesia sebagai sarang teroris, John Stavridis mengaku tidak khawatir sama sekali untuk berkunjung ke Indonesia. Kendati ancaman serangan dari mereka selalu ada. Namun karena optimisme ditambah pengawalan TNI AL yakni Kapal Fatahillah, ketakutan itu menjadi hilang. Alasan masyarakat diberi kesempatan untuk naik ke atas kapal, lanjutnya, adalah untuk memberi mereka kesempatan melihat langsung apa yang ada di situ serta bagaimana aktivitas yang ada. (*)

Kamis, 29 Juli 2010

Go Iwata, Mahasiswa Jepang Peneliti Budaya Siri’ na Pacce di Galesong Takalar

*Terkesan Budaya Sipakalabbiri, Anggap Makassar Kampung Halaman Kedua

BOLEH dibilang belum ada peneliti asing yang serius meneliti budaya siri’ na pacce secara mendalam. Mahasiswa Jepang ini justru menghabiskan waktu selama dua tahun untuk menelitinya. Ia begitu takjub dengan dinamisasi masyarakat Sulsel.

LAPORAN RIDWAN MARZUKI


SOSOKNYA sederhana. Perawakannya tinggi. Ia begitu ramah dan murah senyum. Dengan fasih ia menjawab setiap pertanyaan yang diajukan kepadanya. Ia bernama Go Iwata, peneliti asal Jepang yang telah menetap di Sulsel selama dua tahun untuk melakukan penelitian mengenai budaya siri’ na pacce. Dia mampu menjawab setiap pertanyaan dengan lancar dalam tiga bahasa; Indonesia, Makassar, dan Bugis. Tetapi dibandingkan bahasa Bugis, bahasa Makassar lebih dikusasainya.

Mahasiswa S2 di Kyoto University ini berada di Makassar untuk melakukan penelitian sejak Oktober 2008. Dia begitu tertarik dengan konsepsi siri’ na pacce yang dianggapnya lahir dari sebuah masyarakat dinamis. Penelitiannya telah ia rampungkan, dan September ini ia akan kembali ke negaranya, Jepang. Untuk merampungkan tesis, katanya.

Lokasi penelitian Iwata di daerah Galesong, Takalar. Sebelumnya, tepatnya saat masih S1 di Jurusan Kajian Indonesia Fakultas Kajian Asing, Tokyo University of Foreign Studies pada kurun waktu 2002-2006, dirinya intens mempelajari Bahasa Indonesia. Juga mempelajari budaya dan sejarah negeri beribu pulau ini. Terkhusus mempelajari budaya Bugis-Makassar yang terkenal sebagai perantau, banyak memiliki pahlawan, dan memiliki jiwa patriotisme tinggi.

“Dari situ saya tertarik untuk meneliti budaya Bugis-Makassar. Saya ingin tahu apa yang melatarbelakangi sehingga Bugis-Makassar ini bersifat begitu dinamis,” ungkap Iwata saat penulis bertemu dengannya, Senin 20 September 2010 lalu.

Bukan hanya mempelajari budaya Bugis-Makassar, tetapi kebudayaan Jawa juga tak urung menjadi bagian yang dipelajari dan menarik perhatiannya. Hanya saja, penelitiannya fokus pada budaya Bugis-Makassar, yaitu konseps siri’ na pacce (Makassar) atau siri’ na pesse (Bugis).

Siri’ na pacce, kata dia, merupakan tema umum yang melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sulsel, khususnya etnis Bugis-Makassar. Iwata menjelaskan, pada mulanya, siri’ na pacce merupakan sesuatu yang berkaitan kawin lari. Yakni jika sepasang pria dan wanita kawin lari, maka mereka telah dianggap melakukan perbuatan siri’ dan membawa aib bagi keluarga. Keluarga perempuan selanjutnya disebut tumasiri’, yaitu orang-orang yang berhak menuntut sang pria secara hukum adat karena keluarganya dibawa kabur (kawin lari).

Selama belum kembali melakukan perdamaian, maka selama itu pula sang pria tidak diperkenankan bertemu keluarga pihak perempuan sebagai pasangan kawin larinya. Perdamaian hanya bisa dilakukan secara adat dengan kembali membawa sang perempuan ke rumahnya yang selanjutnya disebut a’bajik. Jika ini belum dilakukan, maka status tumasiri’ tetap melekat bagi keluarga perempuan. Namun jika a’bajik sudah dilaksanakan, maka pasangan kawin lari tadi secara hukum adat sudah terlindungi. Siapa saja yang mengganggunya akan dicap sebagai pelanggar adat dan dikenakan hukum adat.

“Inti budaya siri’ na pacce itu bukan cuma berkaitan pernikahan. Tapi, mencakup seluruh aspek kehidupan orang Bugis-Makassar. Karena, siri’ na pacce itu merupakan jati diri bagi orang Bugis-Makassar,” ucap pria kelahiran Jepang, 21 September 1983 ini.

Siri’ na pacce, imbuhnya, juga berfungsi mencipatakan hubungan harmonis serta melahirkan kerukunan antar sesama, baik dalam relasi antar-individu, kelompok, maupun kemasyarakatan. Konsep itu, kata lelaki bujang ini, berkaitan erat dengan saling menghargai atau sipakatau atau sipakalabbiri (Makassar). Intinya, kata dia, budaya siri’ na pacce mengarahkan manusia untuk saling menghargai dan menghormati harga diri masing-masing, serta saling mengasihi dan menyayangi.

Dan itu, imbuhnya, sampai kini tidak mengalami pergeseran berarti, kecuali pada wilayah ekspresif atau simbol. Dalam Bahasa Indonesia, siri’ biasa diterjemahkan dengan malu, harga diri, kehormatan. Tapi menurut Iwata, semua itu tidak pas mewakili makna siri’ yang sebenarnya.

“Sering saya dengar orang terutama di media-media mengatakan bahwa budaya siri’ na acce itu telah pudar. Tetapi menurut saya, keberadaan wacana seperti itu membuktikan bahwa perhatian terhadap budaya ini masih sangat tinggi. Mengapa? Karena orang di sini sendiri menganggap budaya ini sebagai suatu konsep yang begitu tinggi, yakni suatu nilai budaya yang sangat penting,” urainya.

Menurut Iwata, ada kemiripan budaya malu antara orang Jepang dan Bugis-Makassar. Orang Jepang, katanya, selalu memperhatikan pandangan orang lain terhadap dirinya sementara orang Sulsel (Makassar), kehormatan atau harkat keluarga begitu dijunjung. Rasa persaudaraan orang Sulsel juga dinilainya sangat tinggi.

Sebagai contoh, ungkapnya, tidak seorang pun yang menolak kehadirannya di Galesong selama hampir dua tahun. Dia bahkan sangat terkesan dengan sikap Camat Galesong yang ditinggalinya selama melakukan penelitian. “Saya mengerti keadaan kamu karena saya juga pernah kuliah di Jawa, yakni di Universitas Gajah Mada,” ujar Iwata menirukan perkataan Camat Galesong, saat menolak pembayaran sewa rumahnya.

Begitu berkesannya Sulsel baginya, sehingga suatu saat ia berharap dapat kembali ke Indonesia mengunjungi orang Makassar. Ia malah menganggap Sulsel sebagai kampung halaman keduanya. Oleh karena itu, kepulangannya ke Jepang dianggapnya bukan sebuah perpisahan, melainkan langkah atau jenjang untuk melanjutkan hubungan yang lebih erat dan lebih dalam lagi.

“Jadi itu juga wujudnya persaudaraan orang Sulawesi Selatan ini. Sekali kenal baik, maka ikatan persaudaraannya akan sangat kuat. Makanya saya harus kembali lagi ke sini, atau orang sini yang ke Jepang. Pappala’ doangngang mamaka,” ucapnya dalam Bahasa Makassar yang berarti minta didoakan. (*)
=================================================

SDI Unggulan Toddopuli Terima 60 Siswa Baru

Pendaftaran siswa baru di SDI Unggulan Toddopuli akan dilaksanakan pada 5-8 Juli. Pengumuman hasil seleksi akan dipercepat, yaitu 9 Juli. Kepala Sekolah SDI Unggulan Toddopuli, Idrawati, mengakui pengumumannya memang dipercepat.

"Pengumuman SD Unggulan memang mendahului sekolah lainnya. Tahun ini kita menerima 60 siswa baru. Kita memiliki dua kelas, setiap kelas 30 siswa. Itu sudah ketentuan," terang Indrawati, Rabu, 30 Juni.

Hanya saja persyaratan untuk mendaftar di SDI Unggulan Toddopuli belum ditentukan. Menurut Indrawati, hal itu baru mau dibahas dalam rapat panitia penerimaan siswa baru (PSB). "Nama-nama panitia PSB sudah ada, tetapi belum di-SK-kan. Teknis penerimaan segera kita rapatkan, rencananya hari Minggu panitia akan rapat. Hasilnya kita akan umumkan," tambahnya.

Terkait biaya pendaftaran, Indrawati mengakui hal itu tidak ada lagi. "Tidak ada pungutan sama sekali. Semuanya gratis karena sudah ada dana pendidikan gratis. Semua iuran-iuran sudah tidak ada. Formulir pendaftaran juga gratis," ujarnya sambil menambahkan bahwa uang komite sekolah juga sudah tidak ada lagi. (zuk)

Kuota PSB SMAN 5 Makassar 288 Kursi

SMAN 5 Makassar akan menerima 288 siswa baru dalam tahun ajaran 2010/2011. Jumlah tersebut sudah termasuk siswa yang tinggal kelas. Siswa baru akan menempati sembilan ruangan kelas yang tersedia dengan kapasitas setiap kelas sebanyak 32 siswa. Pendaftaran akan dilaksanakan selama tiga hari, yaitu 5-8 Juli.

Kepala Sekolah SMAN 5 Makassar, A Abd Fattah, mengungkapkan seperti tahun-tahun sebelumnya, persyaratan pendaftaran antara lain nilai ujian Nasional (UN) dan ijazah yang telah dilegalisir dan pas foto ukuran 3x4 dua lembar. Khusus untuk nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA, nilai rata-ratanya harus 7,5.

"Tes dilaksanakan 9 Juli dan pengumuman hasil tes 11 juli. Selanjutnya setelah lulus dan diterima, masih ada wawancara," terang A Abd Fattah.

Menurut Fattah, dalam wawancara tersebut, siswa didampingi oleh orangtuanya. "Ada wawancara setelah diterima. Siswa didampingi orang tuanya bertujuan supaya orang tua juga mengetahui profil sekolah (SMAN 5, red)," imbuhnya.

Terkait biaya pendaftaran, Fattah mengaku formulir bisa diambil gratis. Pembayaran hanya dikenakan, setelah komite sekolah melakukan rapat dan sudah menentukan besaran iuran yang harus dibayar oleh siswa. "Tidak ada pembayaran SPP. Yang ada hanya iuran komite yang besarannya ditentukan oleh hasil rapat komite sekolah," terangnya.

Fattah menambahkan, tidak ada pembayaran sampai jutaan rupiah. Partisipasi orangtua siswa dalam mebiyayi program-program sekolah ditentukan sendiri oleh orangtua siswa melalui rapat komite sekolah. "Kalau ada yang ditemukan membayar sampai jutaan rupiah, kasih saya datanya. Kepada siapa, di mana, dan berapa yang dibayar," pungkasnya. (zuk)

LSM Tuding Kadisdikpora Jeneponto Mengada-ada

*Kasus Pelarangan LSM Memeriksa Dana BOS

MAKASSAR--Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Miskin Perkotaan (Lepemiskot) menganggap tindakan yang dilakukan oleh Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Kadisdikpora) Kabupaten Jeneponto, Mukhtar Nonci, melarang melakukan pemeriksaan dana bantuan operasional sekolah (BOS), mengada-ada.

Pasalnya Lepemiskot mengaku tidak pernah melakukan pemeriksaan sesuai yang dituduhkan. Hal tersebut disampaikan pengurus Lepemiskot, A Sanjaya Purwanto, bersama Sekretaris Umum Lembaga Monitoring Kinerja Aparatur Negara Indonesia (Lemkira) Sulsel, Muhammad Ahyar, saat bertemu penulis, Rabu, 30 Juni.

Sanjaya mengatakan, sejauh ini Lepemiskot tidak pernah melakukan pemeriksaan yang berkaitan dengan keuangan. Yang dilakukan hanyalah pemantauan. "Seperti jumlah siswa, kami harus melihat langsung ke kelas untuk mengetajui realisasi jumlah sasaran sesuai yang ada dalam anggaran BOS," katanya.

Menurut Sanjaya, LSM melakukan pemantauan langsung ke lapangan untuk mengetahui kesesuaian jumlah siswa yang dilaporkan kepala sekolah dengan kondisi faktual yang ada. "Ini adalah pemantauan. Jadi kita bukan memeriksa keuangan, tetapi mengawasi realisasi penggunaan anggaran sesuai dengan kenyataan yang ada," imbuhnya.

Terkait dengan rekomendasi pemeriksaan yang dikeluarkan Saleh Gottang saat menjabat wakil kepala Dinas Pendidikan Sulsel yang saat ini jabatannya sudah ditiadakan, hal tersebut di nilai oleh Lemkira dan Lepemiskot, masih tetap berlaku. Hal itu karena rekomendasi tersebut dikeluarkan secara institusi oleh Dinas Pendidikan Sulsel.

Apalagi saat ini, Lepemiskot sudah mengantongi surat rekomendasi terbaru yang ditandatangani oleh Kepala Dinas Pendidikan Sulsel, Patabai Pabokori, dengan nomor surat: 978/PD4/257A/2010.

"Saya menyayangkan pelarangan ini, apalagi yang dipermasalahkan adalah surat rekomendasi. Padahal meskipun tanpa rekomendasi, LSM berhak untuk mendapatkan informasi dari setiap lembaga publik, termasuk sekolah," tandas Ahyar. Hal itu katanya sesuai dengan UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang informasi publik dan UU Nomor 25 Tahun 2009 tentang pelayanan publik.

Lepemiskot dan Lemkira mengimbau Mukhtar agar membedakan antara memeriksa dan memantau. Tuduhan terhadap Lepemiskot melakukan pemeriksaan keuangan sekolah, mereka nilai sebagai upaya Mukhtar untuk melarang LSM melakukan pemantauan. "Kalau bukan itu yang dipakai, tidak ada alasannya untuk melarang LSM melakukan pemantauan," tambahnya.

Lepemiskot dan Lemkira juga meminta semua LSM agar terus melakukan pemantauan dan pengawasan penggunaan seluruh anggaran pendidikan. Mereka juga meminta kejaksaan agar melakukan pemeriksaan dana pendidikan di Kabupaten Jeneponto. "Apalagi ini menjelang penerimaan siswa baru," ujar Ahyar. (zuk)

Seicy, Sekolah Pemulung dan Anak Miskin

PENDIDIKAN merupakan hak setiap anak. Tetapi itu belum sepenuhnya terwujud. Anak-anak miskin memiliki keterbatasan dalam mengakses pendidikan yang berkualitas. Hal inilah yang mendasari lahirnya Sekolah Seicy atau Skill and Education Improvement for Children and Youth di Kampung Lette, Kecamatan Mariso.

Sekolah ini bernaung di bawah sebuah yayasan yang diberi nama Seicy Foundation. Didirikan oleh salah seorang dosen muda Fakultas Teknik Unhas, bernama Yashinta Kumala Dewi Sutopo. Sejak 2006 lembaga ini digagas dan mulai diaktifkan pada 2008. Totalitas pelaksanaan program dimulai pada 2010, di mana program yang diterapkan menggunakan pendekatan integrasi pendidikan.

Dikatakan terintegrasi, karena di lembaga ini, para pesertanya bukan cuma diajarkan pelajaran umum, tetapi juga diberi pelajaran lainnya yang berkaitan dengan moralitas. Ditambah dengan materi yang tentang soft-skill serta beberapa keahlian lainnya. Pada intinya, pendidikan di Seicy merangkum tiga hal sekaligus, yakni psikomotorik, kognitif, dan afektif. Tetapi, khusus untuk anak usia sekolah dasar, penekanan materinya pada aspek afektif, yaitu penguatan materi-materi keagamaan.

Yashinta beralasan, moral value atau nilai moral yang bersumber dari nilai keagamaan akan berdampak secara signifikan dalam menuntun arah masa depan seorang anak. Agama akan menjadikan manusia selalu berada dalam koridor yang baik karena memiliki akhlak.

"Suatu saat kami ingin lihat Kampung Lette menjadi wilayah yang dibanggakan. Anak-anaknya sehat dan cerdas walaupun tidak kaya," ujar Yashinta, Minggu, 27 Juni saat Fajar berkunjung ke lokasi kegiatan belajar-mengajarnya.

Jika awal 2010 lalu, program Seicy masih pada pemberdayaan anak-anak dan remaja Kampung Lette, kini programnya telah ditingkatkan. Selain program pendidikan, saat ini Seicy sudah menambah program kesehatan dan pengelolaan sampah. Walaupun terbilang program baru, tetapi sudah mulai berjalan.

"Setelah melihat prioritas masalah yang ada di Kampung Lette, kita temukan bahwa kesehatan harus menjadi fokus perhatian. Akses pendidikan anak-anak juga, utamanya bahasa inggris dan matematika," lanjut Yashinta.

Kesehatan, kata Yashinta, berkorelasi besar dengan tingkatan kesadaran masyarakat terhadap kebersihan. Persoalan kebersihan sendiri, berkaitan dengan sejauh mana pengelolaan sampah bisa diterapkan dengan baik. Dalam arti, ketika masyarakat sadar untuk mengelola sampah, maka derajat tingkat kesahatan dala wilayahnya juga akan membaik.

Manajemen Seicy, membagi tiga kelompok garapan di Kampung Lette. Kelompok A, bertugas mengurusi pendanaan atau anggaran yayasan. Kelompok B, bertugas dalam pelaksanaan program bimbingan. Semua yang berkaitan dengan peningkatan pengetahuan, skil, dan moral, dikelola oleh kelompok ini. Dan terakhir, kelompok C, bertugas mengurusi fasilitas atau infrastruktur belajar.

Sekira 40-an orang yang masuk dalam jajaran pengurus inti yayasan. Semuanya volunteer atau relawan dari berbagai kalangan. Mulai dari mahasiswa, dosen, karyawan, hingga ibu rumah tangga. Belum termasuk relawan-relawan lainnya yang bisanya datang memberi bimbingan kepada anak-anak dan remaja Kampung Lette.

Untuk program pengelolaan sampah, Seicy bekerja sama dengan Sustainable Building and City (Subuicy) Planning Laboratory, lembaga riset di jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Unhas. Hasil penelitian Subuicy tentang sampah selanjutnya akan dicoba untuk diterapkan di Kampung Lette. "Kita ingin menggugah dan melihat kepedulian masyarakat terhadap sampah," ujar Yashinta.

Untuk program penyuluhan sampah, koordinatornya bernama Sherly Nurwidyawati. Sedang program kesehatan umum, gizi, dan anak, koordinatornya bernama Syahril Samad. Minggu terakhir setiap bulan, warga diberikan penyuluhan kesehatan termasuk pemeriksaan dan pengobatan gigi gratis. Seicy bekerjasama dengan mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi, juga dengan mahasiswa jurusan arsitektur Fakultas Teknik Unhas. (zuk)

Jumat, 09 Juli 2010

Pemula di MGC, Siap Jadi Percontohan

KELURAHAN Sudiang, Kecamatan Biringkanaya tidak mau ketinggalan dalam Makassar Green and Clean (MGC) 2010. Walaupun secara demografis berbatasan dengan Kabupaten Maros, yang berarti area pinggiran, tetapi semangat warganya untuk melestarikan lingkungan terlihat dari semaraknya penghijauan dalam bentuk penanaman pohon.

Kelurahan Sudiang terdiri atas 20 rukun warga (RW). Tetapi untuk MGC 2010, hanya RW XIV yang terpilih sebagai delegasi untuk berkompetisi dalam even ini. Itu berarti dari segi pengembangan wilayah, utamanya penataan lingkungan, kebersihan, dan penghijauan, setidaknya wilayah ini sudah memilikinya. Tidak semua wilayah bisa masuk dalam 100 besar RW terbaik dalam MGC 2010.

RW XIV terdiri atas empat rukun tetangga (RT). Kawasan yang menjadi percontohan MGC 2010 adalah RT 01 dan 02. Wilayahnya berada di Kompleks BTN Tirasa. Walaupun beberapa lorong jalannya rusak, tetapi tetap terlihat bersih. Kesan hijau juga tampak ketika memasuki wilayah ini. Tetapi hijaunya bukan karena banyaknya bunga, tetapi karena kombinasi suburnya pepohonan yang telah ditanam oleh warga sejak lama bersama dengan beberapa jenis bunga.

Ketua RT 01, Muhammad Idris Rahman, mengakui jika pengadaan pot-pot bunga di pinggir jalan masih dilaksanakan secara bertahap. "Di sini bunga-bunga memang tidak banyak. Tetapi kita punya banyak pohon-pohon. Bunga-bunga atau tanaman kecil itu cuma aksesori. Penghijauan sebetulnya adalah penanaman pohon," ujarnya, Senin, 28 Juni.

Tetapi, kata Idris, bukan berarti bunga dinafikan. Buktinya beberapa bagian jalan dalam kompleks sudah disemarakkan dengan jejeran pot-pot yang ditumbuhi oleh aneka jenis bunga. Untuk menambah kuantitas bunga tersebut, saat ini warga melakukan pembibitan bunga. Hasil pembibitan itulah yang ditanam secara bertahap di wilayah mereka.

Hal itu juga diungkapkan oleh Ketua RW XIV Kelurahan Sudiang, Muhammad Syarif. Menurutnya keterlibatan wilayahnya dalam MGC 2010 ini merupakan tahap awal menuju pembenahan lingkungan yang lebih maju. "Kami adalah pemula dalam MGC 2010 ini. Tetapi kita upayakan supaya ini bisa menjadi contoh," katanya.

Walaupun pemula, kata Syarif, tetapi penghijauan sudah berlangsung lama. "Untuk gotong royong, masyarakat berpartisipasi aktif. Khusus untuk bapak-bapak, kita kerja bakti pada Sabtu dan Minggu. Sedangkan ibu-ibunya setiap hari. Memang ibu-ibu yang paling antusias," tambahnya.

Kawasan RW XIV terbilang luas. Wilayahnya dihuni oleh lebih kurang 800-an kepala keluarga. Terdapat dua sekolah, yaitu SMAN 7 dan SMPN 14. Antusiasme ibu-ibunya dalam menata lingkungan patut diacungi jempol. Soliditas mereka sangat tinggi, seperti terlihat saat Fajar mengunjungi wilayah ini. Puluhan ibu-ibu membaur menyambut kedatangan Fajar dan tim motivator lingkungan MGC 2010.(zuk)

Minim Bunga, Sudiang Dominan Pohon

PEMBENAHAN lingkungan bukan cuma dilakukan oleh warga yang bermukim di perkotaan. Mereka yang tinggal di pinggiran kota pun mulai menyadari pentingnya pembenahan lingkungan. Lingkungan yang tertata dengan baik bukan hanya indah, tetapi juga sehat. Lingkungan hijau dan bersih adalah bagian dari parameter lingkungan yang sehat.

Salah satu wilayah yang lokasinya berada di pinggiran kota adalah Kelurahan Sudiang, Kecamatan Biringkanaya. Disebut pinggiran karena kelurahan ini berada di ujung timur Kota Makassar, berbatasan langsung dengan Kabupaten Maros. Walaupun letaknya di perbatasan, tetapi investasi penghijauan lebih berkembang di kawasan ini.

Wilayah yang masuk dalam Makassar Green and Clean (MGC) 2010 di Kelurahan Sudiang adalah RW XIV. RW ini terdiri atas empat rukun tetangga (RT), yaitu RT 01, RT 02, RT 03, dan RT 04. Kawasan prioritas meliputi RT 01 dan RT 02. Sedangkan RT 03 dan RT 04 merupakan area pendukung. Wilayah RW XIV semuanya berada di dalam Kompleks BTN Tirasa.

Memasuki wilayah RW XIV, dari arah Jalan Goa Ria, kita akan akan temui sebuah pintu gerbang atau gapura yang berbentuk pilar. Di atas gapura tersebut terpampang selembar spanduk ucapan selamat datang bertuliskan, “Selamat Datang di Kawasan Green and Clean BTN Tirasa Kelurahan Sudiang Kecamatan Biringkanaya.”

Di sisi kiri jalan akses masuk ke kompleks, yakni di dinding lorong, terlihat beberapa lukisan ikon MGC 2010 yaitu karikatur ayam mengenakan passapu dan memegang sapu lidi. Lukisan ini terlihat diatur berjarak, sehingga tidak cuma dijumpai di satu titik saja. Walau agak jarang, tetapi sudah ada juga beberapa pot gantung yang terbuat dari botol minuman plastik bekas yang ditanami bunga. Pot-pot tersebut digantung pada dinding tembok jalan masuk kompleks.

Hanya saja, di dekat gerbang tadi, sisi kiri dan kanan jalan belum terlihat jejeran pot bunga seperti yang ada di pusat kompleks. Mungkin karena banyaknya kendaraan yang lewat terutama mobil sehingga warga tidak menaruh pot-pot bunga tersebut. Memang posisi jalan ini sebagai jalan utama kompleks, terbilang sempit jika di tempatkan pot-pot bunga di pinggir jalan.

"Memang di sini penghijauan dengan bunga tidak banyak. Tetapi yang kami lakukan adalah menanam pohon. Jadi walaupun baru masuk MGC, tetapi kita dari dulu sudah melaksanakan penghijauan," terang Ketua RW XIV Kelurahan Sudiang, Muhammad Syarif, Senin, 28 Juni.

Penghijauan lebih semarak di wilayah ini dibandingkan dengan penghijauan dalam bentuk bunga-bungaan. Kita dengan mudah menemukan beberapa titik yang ditumbuhi aneka pepohonan yang rindang. Apalagi di sisi kiri kompleks, terdapat kebun-kebun warga yang ditanami aneka pohon buah, seperti mangga, pisang, nangka, rambutan, dan beberapa jenis buah lainnya.

Halaman rumah-rumah warga juga hampir seluruhnya memiliki pohon. Pohon-pohon tersebut tumbuh di pinggir jalan, yakni di depan atau di samping rumah. Di pinggir lorong kompleks, memang terdapat beberapa bedengan tempat tumbuhnya pohon-pohon tersebut. Bedengan tersebut berfungsi sebagai taman-taman kompleks.

Selain semarak oleh pepohonan, masih di Jalan Poros Tirasa, warga juga memasang umbul-umbul di pinggir jalan. Hal ini menambah suasana semarak kawasan kompleks. Sementara di Lorong Kavling 10 dan 11, Jalan Tirasa, beberapa rumah warga memiliki taman-taman yang ditumbuhi oleh kombinasi pohon buah dan bunga-bungaan, seperti palem, anggrek, kembang doa, dan lainnya. Tanaman tersebut tampak tumbuh sangat subur.

Fasilitator lingkungan RW XIV, Hadijah Said, mengatakan, peran serta seluruh warga sangat berarti dalam pembenahan lingkungan. Meskipun ada beberapa warga yang belum terlibat, tetapi semangat warga lainnya tidak surut. "Apalagi ibu-ibunya, mereka yang sangat antusias membersihkan," ujarnya.(zuk)

Barombong, Daerah Petani yang Bersih

AWALNYA masyarakat di Rukun Warga (RW) V, Kelurahan Barombong Kecamatan Tamalate pernah mengalami miskomunikasi saat akan mengikuti Makassar Green and Clean (MGC) 2010. Ada beberapa faktor penyebabnya. Salah satunya karena perasaan rendah diri warga yang mengasumsikan wilayah lain lebih bagus dari wilayahnya sendiri. Karena, dalam asumsi mereka, wilayah lain warganya rata-rata kaya, sementara mereka miskin.
Hal itu memang wajar karena mayoritas penduduk yang ada di Kelurahan Barombong berprofesi sebagai petani. Petani biasanya merasa "rendah" jika dipertandingkan dengan warga kota. "Di sini 60 persen lebih warga sebagai petani, seperti petani sayur-sayuran, lombok, tomat, dan padi," tutur Ketua RW V Kelurahan Barombong, H Abd Karim, Minggu, 27 Juni.
Tetapi hal itu tidak berlangsung lama. Walau perlahan-lahan, tetapi masyarakat memulai melakukan pembenahan lingkungan. Kebersihan lingkungan ditingkatkan, termasuk penggiatan kerja bakti menata wilayah. Warga yang dulunya sempat merasa minder untuk ikut, mulai antusias melaksanakan program MGC 2010. Dimulai dengan penggiatan kebersihan.
"Walaupun sempat miskomunikasi, tetapi kita tetap membersihkan lingkungan secara rutin. Selama ada MGC setiap minggu kita melakukan kerja bakti," lanjut Karim.
Lurah Barombong, A Ilham, mengatakan, miskomunikasi sebetulnya tidak ada. Kendala yang dihadapi oleh warganya adalah ketidakmampuan membangun infrastruktur lingkungan yang menelan banyak anggaran. Hal itu terjadi karena pembenahan lingkungan setidaknya membutuhkan anggaran, sementara warganya masih banyak yang tergolong kurang mampu. Rata-rata profesi warga Barombong sebagai petani.
Ilham menjelaskan, sebagian warganya belum siap menghadirkan infratsruktur lingkungan salah satunya karena kesibukan mereka dalam bertani disamping faktor kemampuan keuangan. Sehingga ia sebagai lurah juga tidak bisa paksakan. Tetapi, masalah itu segera akan ia atasi dengan mendekati warga yang tidak memiliki kemampuan finansial. Ilham mensosialisasikan pot-pot daur ulang untuk meminimalisasi pengeluaran karena membeli pot-pot bunga.
RW I sebetulnya sudah hijau. Hal itu didukung oleh rimbunnya pepohonan yang ada di wilayah itu. Beberapa rukun tetangga (RT) malah sudah memiliki taman-taman bunga. Sisa beberapa pagar warga yang mau dicat. Hanya saja, khusus di Rukun Tetangga (RT) 02, taman-taman dan pot-pot bunga di pingir lorong belum semeriah dengan RT tetangganya, yaitu RT 03 dan RT 04.
Namun begitu, Karim berjanji akan lebih meggiatkan pembenahan lingkungan bersama dengan warganya. Rencananya ia akan melaksanakan lagi rembuk bersama untuk membuat planning program, khususnya penambahan aksesoris lingkungan sebagai salah satu penyemarak sebagai kawsan MGC 2010.
Hal sama diungkapkan oleh Ilham. Sejauh ini, ia telah membantu bambu kepada beberapa lorong. Hal itu itu ia maksudkan agar ada wilayah percontohan sehingga warga lainnya bisa mencontoh. Dengan memberi stimulasi dalam bentuk pembuatan kawasan percontohan, warga lainnya akan termotivasi. Demikian asumsi yang diyakini oleh Ilham. (zuk)

Manfaatkan Kantong Plastik Bekas

BERBAGAI upaya dilakukan oleh warga kota Makassar dalam menata lingkungan. Salah satunya adalah sosialisasi peran penting kelestarian lingkungan. Yaitu, menumbuhkan kesadaran warga untuk mejaga dan menata lingkungan, serta kemauan untuk menjaga kebersihan dan mengelola sampah menjadi lebih bermanfaat.

Hal ini juga yang sedang dilakukan oleh kader-kader lingkungan Rukun Warga (RW) V, Kelurahan Barombong Kecamatan Tamalate bersama dengan warga yang peduli pada lingkungan. Tanpa kenal menyerah, mereka selalu mengingatkan warga lainnya agar senantiasa menjaga kebersihan dan melaksanakan penghijauan.

RW V merupakan wilayah yang mewakili Kelurahan Barombong dalam Makassar Green and Clean (MGC) 2010. Ada enam rukun tetangga (RT) dalam wilayah ini, yaitu RT 01 hingga RT 06. Kawasan unggulannya ada di RT 03, RT 04, dan RT 05. Kawasan inilah yang dijadikan percontohan penataan lingkungan di Kelurahan Barombong ini. Hal tersebut didasari oleh antusiasme warganya melaksanakan program pembenahan lingkungan, seperti penghijuan dan pembersihan wilayah, termasuk pembersihan drainase.

Ketua RW V Kelurahan Barombong, H Abd Karim, mengatakan, program penataan lingkungan setidaknya akan berjalan dengan cepat karena kerja sama warganya relatif tinggi. "Di sini (RW V, red), support masyarakat terhadap kebersihan cukup bagus. Hubungan emosional cukup tinggi. Persatuan dan kesatuan masih lebih bagus dibandingkan daerah lainnya," katanya, Minggu, 27 Juni.

Lurah Barombong, A Ilham, mengatakan, untuk tahap awal, fokus penataan wilayah ia laksanakan dengan membentuk kawasan percontohan. Makanya ia sendiri yang langsung menyumbang warganya dengan bambu. Alasannya, beberapa rumah warga belum memiliki pagar. Padahal pagar merupakan salah satu kelengkapan penataan lingkungan karena bisa difungsikan sebagai medium penempatan pot-pot bunga gantung.

"Saya optimis warga bisa menata lingkungannya menjadi lebih baik dengan adanya kegiatan ini. Karena manfaatnya luar biasa jika lingkungan sudah tertata dengan baik," ujar Ilham.

Hal yang sama disampaikan salah seorang kader lingkungan RW V, Daeng Ni'ni. Menurutnya, kampanye peduli lingkungan senantiasa ia lakukan. "Saya selalu tekankan kepada warga agar mereka menata lingkungan tanpa harus menunggu sumbangan. Lakukan sesuai kemampuan," katanya.

Warga lainnya, Jawariah, punya cara lain untuk menyemarakkan penghijuan. Perempuan pecinta bunga ini tidak habis akal untuk menyiasati keterbatasan jumlah pot yang dimilikinya. Untuk menyemarakkan tanaman bebungaan, ia memanfaatkan kantong-kantong plastik tebal menjadi pot lalu dijejer di halaman rumahnya. Ia juga memfungsikan gelas-gelas bekas tempat air mineral sebagai pot. (zuk)

Warga Manggala Berbagi Tugas

TIDAK mudah merubah pola pikir masyarakat. Apalagi diajak melakukan sesuatu yang tidak memiliki keuntungan langsung secara materi. Tetapi dengan kesabaran dan ketekunan dalam mengajak sesama untuk berbuat baik demi lingkungan, perlahan-lahan akan mendapat respon positif.

Hal semacam ini juga yang dialami fasilitator lingkungan Makassar Green and Clean (MGC) 2010 Rukun Warga (RW) III, Kelurahan Manggala Kecamatan Manggala, Mistiyah Abbas. Awalnya mengajak warga untuk melakukan permbenahan lingkungan terkendala oleh keengganan sebagian warga untuk ikut berpartisipasi. Padahal, bagaimana pun, keterlibatan semua komponen masyarakat akan sangat menentukan kesuksesannya.

Tetapi, itu hanya berlaku dulu. Saat ini tidak lagi. Malah, warga dengan sukarela menyemarakkan kebersihan dan pembersihan lingkungan. Hasilnya, kini sudah bisa disaksikan. Wilayah RW III sudah bersih dan hijau. Bunga-bunga terlihat menghiasi sepanjang jalan yang masuk dalam area RW tersebut.
"Setelah ada program ini, anak-anak juga sudah mulai sadar. Mereka membuang sampah di tempat yang telah disediakan di pinggir jalan. Jadi besar sekali ini pengaruhnya MGC 2010," puji Mistiyah.

Ketua RW III Kelurahan Manggala, Abbas Pabbe, menjelaskan, setelah sosialisasi program MGC 2010 dilaksanakan di wilayahnya, semangat dan minat warganya meningkat signifikan untuk mengelola dan membenahi lingkungan. Mulai anak-anak, remaja, pemuda, bapak-bapak, serta ibu-ibu, hingga orang tua ikut terlibat. "Beberapa minggu setelah sosialisasi, perubahannya sudah sangat luar biasa," ujarnya, Sabtu, 26 Juni.

Setelah diputuskan untuk membenahi lingkungan, warga Manggala, khususnya RW III mulai melakukan pembagian tugas. Untuk pekerjaan membersihkan yang relatif berat diserahkan kepada laki-laki. Termasuk pengecatan lorong serta pembangunan gapura dikerjakan oleh laki-laki. Sedangkan untuk urusan penghijauan, yakni penanaman bebuangaan, dikerjakan oleh perempuan. Termasuk pembuatan kreasi daur ulang, seperti pembuatan pot dari botol minuman plastik.

Memang, di sisi kiri dan kanan lorong RW III, aneka bunga sudah terlihat semarak. Ditambah dengan kondisi jalan yang sangat bersih, serta beberapa bagian lorong malah dilukis sehingga menambah kesan indahnya. Lukisan-lukisan tersebut didesain dalam berbagai model. Tampilannya lebih variatif.

"Bunga-bunga yang ada di sini bukanlah bunga baru. Kami memang sudah lama memelihara bunga. Cuma selama ini kita tidak terlalu atur. Setelah ada MGC ini baru kita atur lagi," ujar salah seorang kader lingkungan RW III, Sulfa Qadir.

Warga di wilayah ini juga berencana akan membuat kebun obat. Kebetulan di Jalan Nipa-nipa Dalam V, tidak jauh dari gerbang atau gapura masuk, terdapat tanah kosong disebelah kiri jalan. Tanah kosong tersebut telah dibersihkan oleh warga karena selama ini hanya ditumbuhi oleh ialalang liar. "Daripada hanya ditumbuhi rumput, lebih baik kita tanami tumbuhan obat-obatan," terang Abbas.

Motivator MGC 2010, Yanuar Adhi S, menjelaskan secara umum pembenahan wilayah di RW III Kelurahan Manggala sudah berjalan baik. Sisa beberapa hal yang ingin dibenahi. Misalnya pengadaan papan bicara. Hal itu katanya juga penting. "Itu berfungsi sebagai motivasi kepada warga lainnya agar menjaga lingkungan," ucapnya.(zuk)

Manggala yang Asri dan Indah

OLEH RIDWAN MARZUKI

KELURAHAN Manggala Kecamatan Manggala bertekad menyabet juara Makassar Green and Clean (MGC) 2010. Hal itu ditegaskan oleh warga kelurahan ini saat Fajar bersama motivator MGC 2010, Yanuar Adhi S, Sabtu, 26 Juni.

Warga Manggala, khususnya di Rukun Warga (RW) III, memang punya alasan untuk itu. Mereka telah melaksanakan pembenahan lingkungan dengan melibatkan potensi yang mereka miliki. Penghijauan mereka galakkan serta kegiatan pembersihan diaktifkan. Tujuannya agar lingkungan terlihat semakin asri dan indah.

Fasilitator lingkungan RW III, Mistiyah Abbas mengatakan, khusus untuk even MGC 2010 ini, strukutur pengurusnya telah terbentuk. Dalam struktur tersebut, Mistiyah sendiri yang bertindak sebagai kordinator. Lalu ada divisi-divisi lainnya. Setiap divisi atau kelompok bertanggung jawab pada satu program yang telah ditentukan

Sebut saja di antaranya, divisi penataan lingkungan koordinatornya Safaruddin, divisi penyadaran lingkungan, Abd Radjab, divisi daur ulang sampah, A Masnaenah, dan divisi pemberdayaan ekonomi, A Tenriola Maradil. Mereka inilah yang mengorganisasi masyarakat dalam menjalankan program MGC 2010 ini.

Sebelum masuk even ini, warga RW III, khususnya sebagian ibu-ibu, awalnya sedikit sulit diajak berpartisipasi. "Perlu kesabaran karena tidak semua ibu-ibu langsung mau ikut bergabung. Apalagi di sini banyak pegawai negeri sipil. Tetapi setelah melihat hasilnya, mereka akhirnya mau bergabung dan ikut mendukung," terang Mistiyah.

Pembenahan lingkungan di RW III juga mendapat pujian dari Lurah Manggala yang baru, Bakri. Menurutnya pembenahan lingkungan warga sudah sangat bagus. Oleh karena itu, dibawah kepemimpinannya, ia berjanji akan bersama-sama dengan warga melanjutkan program MGC 2010.

Ini sesuai dengan harapan Plt Lurah Manggala sebelumnya, Darwati. Ia berharap di bawah kepemimpinan lurah baru, program kebersihan dan penghijauan bisa terus diaktifkan. "Mudah-mudahan lurah yang baru bisa melanjutkan semua program yang sudah jalan," harapnya.

Ketua RW III Kelurahan Manggala, Abbas Pabbe menargetkan wilayahnya menjadi juara dalam MGC 2010 ini. Hal itu, katanya, karena didukung oleh pengembangan wilayah yang telah dilaksanakan oleh warganya. "Target kami minimal masuk 10 besar RW terbaik. Tetapi kita berharap bisa menjadi juara MGC tahun ini," katanya.

Sumbangsih ibu-ibu tidak bisa dinapikan dalam pembenahan lingkungan di RW III. Mereka yang paling banyak berkontribusi, utamanya yang berkaitan dengan penghijauan dalam bentuk pengadaan berbagai jenis bunga-bunga di jalan-jalan lorong. Termasuk kegiatan pembersihan halaman rumah secara rutin, dilakukan oleh ibu-ibu. (*)

Deklarasi Anti Narkoba di Rotterdam

MAKASSAR--Pemerintah Provinsi Sulsel bersama Pemerintah Kota Makassar memperingati Hari Anti Narkotika Internasional (Hani) di halaman parkir Benteng Rotterdam, Sabtu, 26 Juni. Peringatan tersebut dirangkaikan dengan pembacaan deklarasi Anti Narkoba.

Naskah deklarasi dibacakan oleh Udin Palisuri bersama perwakilan pemuda, mahasiswa, pelajar, PHRI, dan pengelola tempat hiburan. Dalam naskah tersebut, para deklator bertekad untuk menjadikan Sulsel bebas narkoba serta berkomitmen untuk berani menolak benda tersebut hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Sekretaris panitia Hani Sulsel, Muh Nuh Rahim, mengatakan kegiatan ini digelar sebagai upaya untuk mereduksi penggunaan narkoba. "Kita ingin membangun komitmen bersama seluruh komponen masyarakat dalam usaha pemberantasan narkoba di Sulsel," ujarnya.

"Kita berharap supaya Hani ini bisa menjadi motivasi untuk menjadikan Sulsel sehat tanpa narkoba. Demikian pula masyarakat semakin peduli dan mau bersama-sama menanggulangi narkoba," terang Nuh.

Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo dalam sambutannya mengatakan, narkoba sudah sangat mengancam kehidupan umat manusia, apalagi korbannya kebanyakan dari kalangan pemuda. Narkoba sudah memasuki seluruh segmen dan kelas sosial masyarakat. Jika dulu narkoba hanya digunakan oleh kalangan menengah ke atas, sekarang sudah digunakan oleh menengah ke bawah. Dari orang dewasa, remaja, hingga anak-anak.

Menurut Syahrul, pemerintah akan mendorong agar sosialisasi bahaya narkoba ditingkatkan di sekolah-sekolah. Itu karena anak-anak sekolah sangat potensial menjadi korban. Oleh karena, katanya, ia akan meminta pemkot/pemkab agar meningkatkan dan memprioritaskan anggaran sosilaisasi dan pemberantasan narkoba. Tetapi anggaran tersebut disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah masing-masing.

Peringatan Hani ini juga dirangkaikan dengan plepasan balon simbol pemberantasan narkoba oleh Syahrul. Juga penandatanganan spanduk panjang sebagai komitmen memberantas narkoba. Kebiatan ini bekerja sama antara Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) dan Badan Narkotoka Nasional Kota (BNNK), serta Biro Napza dan HIV-AIDS Pemprov Sulsel. (zuk)

Warga Untia, Miskin Tetapi Mandiri

TAHAPAN Makassar Green and Clean (MGC) 2010 sebentar lagi akan memasuki penetnuan 50 besar rukun warga (RW) terbaik. Setiap kelurahan yang masuk dalam 100 besar RW terbaik berkompetisi ketat untuk setidaknya lolos dalam tahapan berikutnya. Tentu saja, semua menargetkan bisa menjadi juara.

Hal senada disampaikan fasilitator lingkungan Kelurahan Untia, Kecamatan Biringkanaya, Djambrud. Meskipun wilayahnya, yaitu Rukun Warga (RW) I, masuk dalam MGC 2010, tetapi mengejar atau memasang target juara tidak dilakukannya. "Juara bukan tujuan, yang penting warga mau sadar membersihkan dan melaksanakan penghijuan," ujarnya, Kamis, 24 Juni

Apa yang dikatakan oleh Djambrud sebetulnya sebagai upaya merendah. Alasannya, ketika Fajar melakukan pemantauan di wilayahnya, penataan lingkungannya relatif sudah berkembang. Untuk ukuran kampung, hal itu sudah sangat maju. Kebersihan lingkungan begitu terjaga. Ditambah oleh semaraknya penghijauan. Diperindah pula oleh warna-warni cat yang menghiasi jalan dan tembok lorong.

Warga sendiri yang mengoorganisasi pembenahan itu. Menurut Djambrud, meskipun Kelurahan Untia tidak memiliki Lurah, tetapi semangat warganya mengelola lingkungan cukup tinggi. "Meskipun kami berharap ada lurah, tetapi ada lurah atau pun tidak kami akan menata lingkungan secara mandiri," tambahnya.

Memang, berbagai pembenahan lingkungan yang dilakukan oleh warga RW I, anggarannya berasal dari swadaya masyarakat setempat. "Walaupun miskin, tetapi kami tidak mau menuntut (kepada pemerintah, red). Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah," ujar Effendi Tayyeb AB, Ketua RT 01 yang juga koordinator MGC 2010 di RT 01.

RW I Kelurahan Untia, hanya terdiri atas tiga RT. Setiap RT, penanggungjawab pembenahan lingkungan dikoordinir lansung oleh ketua RT masing. Untuk RT 02, M Anis Ali dan RT 03, Tamrin. Kepaduan warga dalam menyukseskan MGC 2010 ini mendapat pujian dari Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Untia, Buhari Rahman. "Kerjasama warga sangat bagus. Suasana kekeluargaan sangat kental," pungkasnya.

Yang unik dari wilayah ini, karena hampir setiap nama jalan menggunakan nama perahu tradisional yang ada di Sulsel. Misalnya Jalan Phinisi, Jalan Jolloro, Jalan Sandeq, Jalan Lepalepa, dan lainnya. "Karena di sini kampung nelayan, jadi jalan-jalannya diberi nama-nama perahu," ungkap H Zainuddin, Ketua RW I.

Hanya saja warga masih mengeluhkan sistem penjemputan sampah rumah tangga. Menurut mereka, di Untia hanya ada satu kontainer sampah yang disediakan. Penjemputannya pun tidak setiap hari, sehingga terkadang sampah menumpuk di sekitar kontainer karena tidak muat lagi.

Demikian juga kanal besar yang membelah Kelurahan Untia. Kanal tersebut terlihat agak jorok karena kedua sisi pinggirannya belum ditembok. Masih terlihat sampah di kanal tersebut. (zuk)

Untia, Siap Imbangi Bogor

MAKASSAR--Kelurahan Untia Kecamatan Biringkanaya serius mengikuti Makassar Green and Clean (MGC) 2010. Hal terlihat dari berkembangnya pembenahan lingkungan yang ada di wilayah itu. Seperti terlihat, Kamis, 24 Juni, saat Fajar dan motivator MGC 2010, Dwi Cahya R mengunjungi wilayah ini

Warga Untia, khususnya di Rukun Warga (RW) I, menyambut kedatangan kami dengan sangat ramah dan antusias. Ini bukan mengada-ada, pasalnya ketika kami sampai, warga di RW ini, dari kalangan ibu-ibu dan bapak-bapak, terlihat menyambut kedatangan kami di gerbang masuk yang tampaknya sudah menunggu agal lama. Salah satunya adalah Ketua RW I, H Zainuddin.

MGC 2010 ini, Kelurahan Untia memang hanya mendelegasikan satu wilayahnya, yiatu RW I. RW ini hanya terdiri atas tiga rukun tetangga (RT), masing-masing RT 01, RT 02, dan RT 03. Wilayah ini, oleh warga Untia, dianggap paling siap bersaing dengan wilayah-wilayah lain dalam even tahunan ini. Hal itu memang wajar jika melihat pesatnya perubahan wilayah ini sejak bergabung dalam even MGC 2010 ini.

Ketua RT 01, Effendi Tayeb AB, menegaskan jika warganya totalitas dalam melakukan pembenahan lingkungan. Apalagi katanya, Kelurahan Untia diekspektasikan menjadi daerah kunjungan wisata, utamanya wisata kelautan. "Masyarakat Perkampungan Nelayan siap bersaing dengan Kota wisata, Bogor. Kita siap menuju Kota Dunia," ujar laki-laki yang juga menjabat sebagai koordinator MGC 2010 untuk RT 01.

Sekedar catatan, Kelurahan Untia lebih populer dengan sebutan Kampung Nelayan. Ini disebabkan karena mayoritas warga yang tinggal dan tercatat sebagai penduduk di kelurahan ini berprofesi sebagai nelayan. Kawasan ini memang sangat dekat dengan laut. Tepatnya berbatasan langsung dengan laut di bagian barat wilayah ini.

Fasilitator lingkungan Kecamatan Biringkanaya yang juga aktivis lingkungan Kelurahan Untia, Djambrud, menjelaskan untuk masuk berkompetisi dalam MGC 2010, bukanlah hal yang sulit bagi warganya. Alasannya karena masyarakat di wilayah ini sejak dulu memiliki kultur bersih. Walaupun selama ini sering mendapat setreotipe dengan sebutan daerah kumuh.Tetapi, tegas Djmabrud, kesan kumuh itu hanyalah masa lalu.

Djambrud memang paling memahami persoalan penataan lingkungan. Sejak tiga tahun lalu perempuan paruh baya ini dinobatkan sebagai fasilitator lingkungan. Sudah tiga kali ia terlibat dalam even green and clean. Tepatnya sejak 2007, saat MGC mulai dihelat. Makanya tak heran jika saat ini ia sudah dijadikan fasilitator kecamatan. Dialah yang mengurusi pembenahan wilayah setiap kelurahan di Biringkanaya. "Saya mengurusi sampah terus. Mungkin sampai mati," ujarnya lirih.

Di RW I ini, warga memang bahu membahu menata lingkungan. Keseriusan itu bisa disaksikan dengan maraknya penghijauan di wilayah itu. Selain hijau, wilayahnya juga terlihat bersih. Termasuk saluran-saluran air di halaman rumah warga terlihat sangat bersih. Djambrud berharap, semoga kondisi ini bisa dipertahankan terus oleh warganya. (zuk)

Erni Fadzry, Penerima Rekor MuRI Daur Ulang (2-Selesai)

*Melestarikan Lingkungan Adalah Ibadah

JANGAN anggap remeh sampah. Hanya karena mendaur ulang sampah, Hj Erni Suhaina Ilham Fadzry mendapatkan tiga Rekor MuRI sekaligus.

RIDWAN MARZUKI
Makassar

Menjaga kelestarian lingkungan tidak harus mengeluarkan ongkos banyak. Bisa dengan mendaur ulang sampah. Hal inilah yang diyakini betul oleh Erni. Bersama warga binaannya, ia berhasil memecahkan Rekor MuRI yang diterima pada 5 Juni lalu. Tidak tanggung-tanggung, tiga rekor dibuatnya secara bersamaan.

Rekor MuRI yang didapatkannya karena berhasil membuat kreasi unik pemanfaatan limbah non B3 (tidak berbau, tidak berbahaya, dan tidak beracun). Rekor yang dipecahkannya, masing-masing pakaian pengantin dari limbah non B3, pakaian penyelenggara pengantin dari limbah non B3, serta dekorasi dan suvenir pengantin juga dari limbah non B3.

Karena prestasinya itu pula, ia diundang ke Makassar oleh Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) dan DPP LDII untuk menerima award serta berbagi pengalaman dengan kelompok-kelompok perempuan utamanya yang konsen terhadap masalah persampahan. "Tujan saya ke Makssar untuk memberi pelatihan kepada masyarakat tentang pengelolaan limbah," tutur perempuan berkacamata ini, Kamis, 24 Juni.

Kreatifitas daur ulang sampah, bagi Erni, bertujuan untuk membangkitkan kesadaran warga untuk mencintai alam dan lingkungan. Misalnya saja limbah atau sampah plastik yang yang begitu banyak diproduksi oleh tiap rumah tangga. Makanya, pengetahuan itu selanjutnya ia sebarkan kepada warganya dalam bentuk bimbingan gratis. "Jargonnya, setiap detik kurangi penggunaan plastik," imbuh perempuan alumni Universitas Padjajaran angkatan tahun 1990 ini.

Pengembangan daur ulang sampah memang ia prioritaskan untuk sampah plastik. Bukan berarti, sampah lain tidak dilirik, tetapi sampah plastik ia nilai sebagai pencetus pencemaran lingkungan. Plastik berkontribusi besar bagi global warming. "Sampah plastik itu sulit terurai. Makanya itu jadi prioritas kita," bebernya.

Berbagai jenis sampah yang ia sebut limbah non B3 itu, bisa diolah menjadi barang bernilai. Sebut saja, kulit kerang, kertas bekas, plastik bekas, botol plastik dan aneka limbah kering lainnya. "Sampah non-B3 itu selanjutnya dipilah antara yang organik dan non-organik. Limbah organik bisa diolah menjadi pupuk kompos dan limbah nonorganik itu yang kami olah menjadi barang daur ulang," tutur perempuan berkacamata ini.

Memang, dengan menggunakan berbagai jenis sampah kering atau nonorganik, Erni berhasil menciptakan aneka barang hiasan serta pakaian. Termasuk gaun pengantin yang terlihat indah telah dibuatnya bersama dengan warga yang ada di Kelurahannya, yaitu Kelurahan Gumilir Kecamatan Cilacap Utara, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Gaun pengantin inilah salah satunya yang mendapat penghargaan Rekor MuRI.

Demi memberdayakan warga sekitarnya, saat ini di lembaga kursusnya, yakni Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Bu Nandang, ia melatih setidaknya 500-an orang secara gratis. Warga yang datang belajar, hanya diwajibkan membawa sampah sebagai bahan simulasi dalam membuat baranng-barang daur ulang.

Inspirasi kepedulian lingkungan Erni dapatkan dari kedua orang tuanya. Sejak kecil ia diajarkan untuk mencintai lingkungan. Ayahnya selalu menjelaskannya bahwa sesuatu yang sudah lama itu masih bisa digunakan, sedangkan yang baru harus dipelihara. Apalagi, salah seorang kakaknya pernah mendapat penghargaan Man and Biosphere Award. Hal itu kian melecutkan motivasinya untuk mencintai lingkungan. (*)

Erni Fadzry, Penerima Rekor MuRI Daur Ulang (1)

*Melestarikan Lingkungan Bisa Dilakukan Siapa Saja

BANYAK cara melestarikan lingkungan. Salah satunya dengan mendaur ulang sampah atau barang bekas.

RIDWAN MARZUKI
Makassar

Wajahnya begitu ceria ketika pagi-pagi sekali saya menjumpainya di Kompleks Perumahan Pesona Landak Indah. Dengan ramah, ia menyambut di depan rumah dan mempersilahkan Fajar masuk. "Waalaikum salam, silahkan masuk, Mas," katanya mempersilahkan Fajar masuk ke dalam rumah.

Dialah Erni Fadzry. Nama lengkapnya, HJ Erni Suhaina Ilham Fadzry. Perempuan inilah yang berhasil mendapatkan sertifikat Rekor MuRI karena keberhasilannya menghasilkan berbagai kreatifitas mengelola samapah dan barang bekas tak terpakai lagi. Bahan-bahan itu diolahnya atau didaur ulang menjadi barang yang bernilai.

Kedatangannya ke Makassar dalam rangka menerima penghargaan dari Kementrian Lingkungan Hidup dan DPP LDII. Ia dinilai berhasil dalam bidang pelestarian lingkungan. Selain itu, kedatangannya juga untuk memberikan ceramah-ceramah tentang daur ulang sampah kepada berbagai kelompok ibu-ibu di metropolitan. Malahan, Erni mengaku harus menambah waktu berkunjungnya ke Makassar karena banyaknya undangan berbicara.

Perempuan kelahiran Bandung, 5 Maret 1968 silam ini terbilang sukses mengembangkan usaha daur ulang sampah. Sampah yang terpakai lagi dan sudah tidak berguna, ia olah bersama dengan anggotanya, sehingga menjadi barang yang memiliki nilai estetika tinggi.

Erni menuturkan, awalnya ia konsen memberikan bimbingan yang berkaitan dengan wedding organizer. Yaitu, lembaga kursus khusus untuk keterampilan yang berkaitan dengan pesta pengantin. Seperti menjahit busana pengantin, dekorasi pesta, tata rias pengantin, dan suvenir, serta berbagai keterampilan lainnya.

Nama lembaga kursusnya yaitu Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Bu Nandang. Di tempat inilah ia memberdayakan warganya dalam mengelola samapah menjadi barang yang memiliki nilai. LKP BU Nandang, dinaungi langsung oleh Direktirat Pembinaan Kursus dan Kelembagaan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas).

"Kami melakukan ini karena mencintai bumi. Masalah mendasar yang kita hadapi saat ini adalah global warming dan climate change. Karena saya bergerak di bidang pendidikan masyarakat, akhirnya saya beri merekapendidikan pengolahan sampah non-B3, yaitu tidak berbau, tidak berbahaya, dan tidak beracun," katanya, Kamis, 24 Juni.

Menurutnya, untuk mengatasi atau mereduksi global warming tersebut, setiap orang dituntut untuk berkontribusi. Setiap orang, katanya, mestinya berperan menciptakan solusi dengan berbagai pendekatan sesuai dengan kapasitas masing-masing individu.

Karena setiap orang memiliki kapasitas untuk melestarikan lingkungan sesuai dengan bidangnya masing-masing. "Contohnya wartawan, sumbangsihnya untuk pelestarian lingkungan, adalah sosialisasi kegiatan yang bermanfaat bagi lingkungan," lanjut Erni. (*)

Britama Funbike dengan Nasabah

MAKASSAR--Bank Rakyat Indonesia (BRI), melaui tabungan Britama, akan menggelar sepeda santai atau funbike pada 11 Juli mendatang. Kegiatan ini terbuka untuk umum baik perorangan maupun kelompok atau komunitas sepeda yang ada di Makassar, Maros, dan Sungguminasa

Pimpinan Cabang Pembantu (Pincapem) Kantor Cabang Pembantu (KCP) BRI Graha Pena, Nugroho Djoko Surono, Jumat, 25 Juni, mengatakan, untuk mengikuti even ini, panitia memberlakukan syarat khusus. Bagi masyarakat yang berminat untuk mendaftar, terlebih dulu harus memiliki rekening Britama dengan tambahan nominal saldo tertentu.

"Untuk persyaratannya, khusus yang sudah memilki rekening Britama, cukup menambah saldo Rp 200 ribu. Sedangkan yang belum memiliki, harus membuka rekening Britama terlebih dulu, dengan saldo minimal Rp 250 ribu," terang Nugroho.

Lebih lanjut, Nugroho menjelaskan, kegiatan ini bertujuan untuk mendekatkan masyarakat dengan BRI, khususnya Britama. "Sasarannya untuk menggerakkan masyarakat agar menabung sehingga bisa memenenej keuangannnya. Dengan memiliki rekening, mereka bisa me-maintenance keuangannya," jelasnya.

Peserta yang mendaftar akan mendapatkan baju kaos, konsumsi, serta kupon undian doorprize. Memang, panitia menyediakan berbagai jenis hadiah, seperti alat elektronik, sepeda, HP BlackBerry, serta sepeda motor. Total hadiahnya mencapai puluhan juta rupiah. Peserta, kata Nugroho, ditargetkan mencapai 2000 orang.

Untuk tempat pendaftarannya sendiri, imbuh Nugroho, bisa dilakukan di seluruh kantor BRI, dari kantor cabang hingga kantor cabang pembantu. "Waktu pendaftaranya sejak Mei lalu hingga, Kamis, 8 Juli nanti," bebernya.

Rute yang akan ditempuh dalam funbike ini, start dari BRI Ahmad Yani dan finish di Anjungan Pantai Losari. Di sana akan dilaksanakan pengundian doorprize. Acara juga akan diramaikan dengan hiburan, senam massal, dan donor darah.

Nasabah Britama, imbuh Nugroho, akan diikutkan dalam program Untung Beliung Britama. Di program ini, nasabah memiliki kesempatan untuk menang undian berkali-kali. Program yang sedang berjalan ini adalah untuk periode Mei hingga September. Setiap minggu diadakan pengundian dan hadiahnya berupa uang tunai dan mobil. (zuk)

Juli, Axis Hadir di Makassar

MAKASSAR--Setelah dua tahun usianya sejak diluncurkan di Pulau Jawa, operator seluler Axis juga akan segera hadir di Makassar. Pengembangan jaringan untuk masuk ke pasar kawasan timur Indonesia dimulai dengan menggarap Pulau Kalimantan dan Sulawesi.

Senior Manager Corporate Communication HR and Communications Division Axis, Anita Avianty, menegaskan hal tersebut saat bertandang ke Fajar, Jumat, 25 Juni. Menurutnya, hasil kerjasama dan investasi yang yang berkelanjutan mendorong Axis untuk melebarkan jangkauan ke Kalimantan dan Sulawesi. Sebelumnya, pascapeluncurannya 2008 lalu, Axis telah meng-cover Pulau Jawa, Bali, dan Lombok, serta Sumatera. "Untuk Sumatera, kita cover di awal 2010," ujarnya didampingi Executive Axis, Rachmawati.

Untuk tahap awal kehadirannya di Kalimantan dan Sulawesi, Axis menjalin bekerjasama dengan XL dalam hal penyediaan infrastruktur jaringan. Hal itu untuk memberi layanan secepatnya kepada masyarkat sementara Axis sendiri membangun jaringannya. Itu karena saat ini Axis belum memiliki jaringan di dua pulau tersebut hingga saat ini.

Sebagai implementasi roaming nasional dengan XL, kata Anita, layanan akan tetap kompetitif utamanya yang berkaitan dengan tarif pemakaian. Serta, soal ketersediaan jaringan. Saat ini, populasi yang terjangkau layanan Axis sudah mencapai 65 persen atau krang lebih 157 juta orang.

"Pertengahan Juli nanti kita akan luncurkan serentak di Kalimantan dan Sulawesi. Dan rencananya, regoinal office, kita tempatkan di Makassar," jelas Anita.
Exis didukung oleh dua perusahaan komunikasi besar berkelas internasional, yaitu Saudi Telecom Company (STC) dan Maxis Communications Berhad. "Layanan komunikasi untuk haji dan umrah kami tawarkan jauh lebih kompetitif karena perusahan kami di sana (Arab Saudi, red)," lanjut Anita.

Anita mengungkapkan, hinga saat ini, jaringan Axis telah hadir di 350 kota se-Indonesia. Pelanggannya sudah mencapai enam juta orang dan khusus untuk pelanggan BalckBerry, sudah mencapai kurang lebih 50 ribu orang

Layanan yang disediakan Axis meliputi GSM dan 3G. Termasuk layanan BlackBerry "Axis Worry-Free". Kartu GSM disediakan dalam dua jenis layanan, yaitu prabayar dan pascabayar. Anita menyebut, layanan prabayar yang masih dominan saat ini. "Untuk sebagian pelanggan korporasi, menggunakan layanan pascabayar. Korporasi juga biasanya menggunakan layanan BlackBerry," katanya.

Untuk tahap awal kehadirannya di Kalimantan dan Sulawesi, Axis masih dominan menjadikan remaja sebagai basis pasar. "Walaupun memang segmennya untuk remaja, tetapi semua kalangan sebetulnya bisa. Yang butuh harga murah bukan cuma anak muda," pungkasnya.

Program internet BalckBerry Axis saat ini tersedia dalam beberapa pilihan. Seperti paket unlimited harian, unlimited mingguan, dan unlimited bulanan. "Untuk unlimited bulanan, harganya Rp 120 ribu. Sudah termasuk gratis bicara lima ribu menit. Tapi program ini masih akan kita revisi," katanya.(zuk)

Pattunuang Tidak Perlu Komando

OLEH RIDWAN MARZUKI

MAKASSAR -- Warga Kelurahan Pattunuang Kecamatan Wajo menggiatkan pembersihan dan penghijauan. Berbagai langkah dilakukan sebagai bentuk praksis keseriusan mengikuti Makassar Green and Clean (MGC) 2010. Salah satunya seperti terlihat, Rabu, 23 Juni, warga bergotong royong membersihkan jalan dan membuat keranjang sampah rumah tangga.

Ketua Rukun Warga (RW) I Kelurahan Pattunuang, Muhammad Usmar Fikardi, mengoordinasi langsung pembuatan keranjang sampah. Keranjang tersebut berasal dari ember-ember cat bekas ukuran 25 kilogram dan jeriken air bekas yang sudah tidak terpakai lagi. Benda-benda tersebut kemudian dibersihkan lalu disemprot cat sehingga terlihat indah.

Di Pattunuang, RW yang masuk dalam MGC 2010 adalah RW I. RW ini terdiri atas empat rukun tetangga (RT), yaitu RT 01, RT 02, RT 03, dan RT 04. Proses pembenahan lingkungan dikoordinasi langsung oleh ketua RT masing-masing bekerja sama dengan fasilitator lingkungan RW I, Rusli, atau biasa dipanggil Ulli. RT andalan, antara lain RT 01, Rt 02, dan RT 03. Ketua RT 01 bernama M Ilyas Idris, RT 02, Amrullah, dan RT 03, Muslimin.

Bersama dengan kader lingkungan yang ada di wilayah ini, Usmar, Rusli, Ilyas, Amrullah, serta Muslimin, bahu-membahu menata lingkungan mereka. Penghijauan disemarakkan. Padahal, wilayah RW I terbilang luas karena dikelilingi oleh beberapa jalan lorong. Jalan-jalan lorong inilah yang dihijaukan warga dengan berbagai jenis tanaman bunga.

Lurah Pattunuang, Harun Rani, juga terlihat terlihat di wilayah itu, saat Fajar dan motivator MGC 2010, Dwi Cahya R melakukan pemantauan. Harun terlihat akrab dengan ibu-ibu kader lingkungan dan anak-anak di situ.

"Partisipasi warga begitu besar jika lurah turun langsung. Itu motivasi langsung bagi warga," kata Usmar, memuji lurahnya.

Menurut Harun, tingkat partisipasi warganya dalam program MGC 2010 ini cukup besar. Hal itu, katanya, bisa dilihat oleh banyaknya perkembangan yang berkaitan dengan lingkungan semenjak ikut dalam even ini. "Di sini kepedulian lingkungan warga sangat besar," ujar dia.

Lebih jauh, kata Harun, warga di wilayah ini memiliki karakteristik tersendiri. Mereka tidak mau bekerja jika langsung diperintahkan.

"Di sini tidak mau pakai sistem komando. Setiap program yang akan dijalankan harus dimusyawarahkan dulu. Jadi dilakukan step by step, tidak bisa langsung main perintah," ungkap Harun, alumni SMA Negeri 4 Makassar angkatan 1992. (ridwan)

Beli Pot Pakai Uang Sendiri

TIDAK ada kata tidak ada bagi ibu-ibu kader lingkungan Rukun Warga (RW) I, Kelurahan Pattunuang Kecamatan Wajo. Walaupun dana terbatas, tetapi hal tersebut tidak menyurutkan niat mereka untuk membersihkan dan menghijaukan lingkungan. Demi mendapatkan berbagai jenis pot bunga yang indah, mereka rela menyisihkan uang belanja demi tujuan tersebut

Hal itu juga diakui oleh Ketua RW I, Muhammad Usmar Fikardi dan Lurah Pattunuang, Harun Rani. Kedua orang ini bahkan memberi apresiasi khusus kepada ibu-ibu kader lingkungan tersebut. "Mereka (ibu-ibu, red) yang berbuat dan mengoordinasi langsung masyarakat menjalankan program MGC," ujar Usmar, Rabu, 23 Juni.

Memang, warga, khususnya ibu-ibu sangat antusias mengikuti Makassar Green and Clean (MGC) 2010. Walau anggaran terbatas, semangat untuk menghijaukan lingkungan begitu besar. Pot-pot sengaja mereka beli sebagai medium penanaman bebungaan di lingkungan mereka. Untuk bunga-bunga sendiri, ibu-ibu saling membantu dengan warga lainnya. Apalagi beberapa warga memiliki tempat pembibitan bunga

Setidaknya ada dua warga yang rela menyumbangkan bibit bunganya kepada warga lain. Tujuannya agar bunga-bunga tersebut di kembangkan di pinggir-pinggir lorong di RW I tersebut. Kedua orang yang memiliki pembibitan bunga tersebut, yaitu fasilitator lingkungan RW I, Rusli dan Ketua Rukun Tetangga (RT) 01, M Ilyas Idris. Tetapi beberapa ibu-ibu dengan inisiatif sendiri membeli bunga di luar

RW I merupakan delegasi Kelurahan Pattunuang dalam Makassar Green and Clean (MGC) 2010. Di RW ini, penghijauan sudah terlihat semarak. Hal ini juga disambut positif oleh motivator MGC 2010, Dwi Cahya R. Menurutnya, wilayah ini sudah memperlihatkan perubahan. Hanya saja, kata Dwi, warga belum memiliki bank sampah

Ada empat RT yang masuk dalam kawasan RW I. Keempat RT ini terletak di Jalan Hos Cokroaminoto Lorong Tanjung Piring dan Jalan Bulusaraung Lorong 254, 255, 256, dan 257. Lorong-lorong saling menyambung sehingga penghijauan terlihat luas dan memanjang

Di hampir setiap lorong, di tembok-tembok jalan, terdapat lukisan-lukisan pemandangan alam. Menurut warga, lukisan tersebut dibuat sendiri oleh warga yang tinggal di wilayah itu. Dominan dibuat oleh remaja. Tujuannya agar lorong semakin meriah dengan hadirnya lukisan tersebut

Harun Rani mengaku tidak memiliki target apa-apa dalam MGC 2010 ini. "Kami tidak punya target. Yang kami inginkan adalah perubahan mindset masyarakat. Dulu kesadarannya belum ada. Tetapi sekarang sudah ada. Mereka sudah mulai bersih dan melaksanakan penghijauan," terangnya.

Walau begitu, Harun juga menyadari jika warganya belum 100 persen mau terlibat dalam program ini. "Tidak semua warga terlibat. Masih ada warga yang belum memiliki kesadaran. Barangkali karena kesibukannya. Tetapi secara umum bagus kerjasamanya. Setiap ada kerja bakti, mereka mau turun," imbuh Harun. (zuk)

Isu PSDA, Media Terapkan Jurnalistik Feodal

MAKASSAR--Pemberitaan mengenai pengelolaan sumber daya alam (PSDA) dianggap masih kurang advokatif. Berita-berita yang ditampilkan oleh media-media cetak Sulsel, yang berkaitan dengan PSDA dianggap tidak berimbang karena lebih banyak menjadikan pemerintah sebagai nara sumber. Sementara stakeholder lain yang juga bersentuhan dengan PSDA jarang atau sangat minim dijadikan sebagai sumber.

Hal tersebut mengemuka dalam pemaparan hasil penelitian Lembaga Study Informasi dan Media Massa (eLSIM) yang berkaitan dengan pemberitaan isu-isu PSDA. Penelitian tersebut mengambil empat sampel media cetak lokal di Sulsel, yaitu Fajar, Tribun Timur, Pare Pos, dan Palopo Pos.

Kegiatan yang digelar di Marasa Cafe ini, Selasa, 22 Juni, menghadirkan Koordinator Riset eLSIM, Riza Dharmaputra, Direktur Celebes, Mustam Arif, pemerhati media, Muliadi Mau dan dan Ketua KPID Sulsel, Aswar Hasan, sebagai pembanding dan penanggap terhadap pemaparan hasil riset tersebut.

Menurut Riza, hasil penelitiannya secara umum menyimpulkan bahwa kebijakan redaksi media belum begitu concern terhadap isu PSDA. Hal itu, katanya, bisa dilihat dari penempatan berita di halaman dalam. "Artinya PSDA sebagai isu kedua, bukan yang utama," tandasnya.

Hal lainnya, media masih berorientasi pada kebijakan pemerintah, dan lebih banyak memilih narasumber dari kalangan pemerintah atau government oriented. Sedangkan stakeholder lainnya yang terkait dengan isu PSDA belum dimaksimalkan. "Tetapi secara umum kualitas berita mengenai PSDA telah memenuhi standar jurnalistik," kata Riza.

Mustam Arif menjelaskan, dalam pemberitaan kasus PSDA, media menganut pola jurnalistik feodal. Hal itu ia maksudkan karena kecenderungan media menempatkan pemerintah dan aparat keamanan sebagai sumber resmi. "Dampaknya, pemberitaan tidak berimbang dan cenderung merugikan masyarakat dan menguntungkan pemerintah," paparnya

Selain itu, menurut Mustam, media, terutama media-media lokal, dicurigai belum punya agenda redaksi untuk isu PSDA. Pemberitaan tentang sumber daya alam bukan karena krusialnya isu tersebut, tetapi masih tergantung pada peristiwa yang terkait dengan PSDA itu sendiri. "Isu-isu yang berkembang di masyarakat bukan diciptakan oleh media, tetapi diciptakan oleh masyarakat sendiri. Lalu media mengangkatnya sebagai isu," imbuh Mustam.

Oleh karena itu, lanjutnya, perlu mendorong keberpihakan media massa untuk untuk isu PSDA dengan penigkatan kapasitas pada level pengambil kebijakan redaksional media, pengambil kebijakan bisnis media, dan pemilik media. "Juga peningkatan kapasitas jurnalis untuk memahami isu-isu PSDA secara kontinyu," ujarnya.

Sementara itu, Muliadi Mau, mengimbau agar metode penelitian yang dipakai oleh eLSIM dalam penelitian tersebut dijelaskan kepada publik supaya jelas dan transparan. Juga, katanya, harus diperjelas langkah-langkah riset yang ditempuh, serta unit yang dianalisis. Kategorisasi juga mesti dipertimbangkan dalam penelitian.

Muliadi juga menyoroti model pemberitaan yang berkaitan dengan PSDA yang lebih banyak menjadikan pemerintah sebagai sumber. Semestinya, kata dia, ada dialog dari berbagai stakeholder PSDA. "Pemberitaan PSDA didominasi oleh perspektif pemerintah. Media tidak sadar, ia menjadi alat pemerintah," tandasnya.

Hal senada disampaiakn Aswar Hasan. Menurutnya, dominasi sumber dari pemerintah dalam pemberitaan PSDA sangat berbahaya. Hak publik, katanya, tidak tersuarakan karena tidak menghadirkan sumber-sumber lain yang relevan. "Secara tidak langsung, pemerintah memanfaatkan media," ujarnya. (zuk)

Tello Baru Bangkitkan Kesadaran Bersih Warganya

PERSAINGAN menuju rukun warga (RW) terbaik Makassar Green and Clean (MGC) 2010, semakin ketat. Sejak proses seleksi dimulai beberapa waktu lalu, dari 270-an RW yang berkompetisi, kini hanya tersisa 100 RW terbaik MGC 2010. Wilayah-wilayah inilah yang sedang bersaing menuju RW terbaik se-Kota Makassar. Salah satu kelurahan yang meloloskan RW-nya adalah Kelurahan Tello Baru Kecamatan Panakukkang.

RW yang lolos masuk 100 besar RW terbaik adalah RW IX. RW ini terdiri atas lima rukun tetangga (RT), yaitu RT 01, RT 02, RT 03, RT 04, dan RT 05. RW IX inilah satu-satunya yang lolos mewakili Tello Baru. Sehingga tidak heran, wilayah ini begitu dibanggakan oleh Lurah Tello Baru, Hamdan Budiman. Karena RW IX-lah yang lebih baik wilayahnya saat ini dalam lingkup Kelurahan Tello Baru.

Hamdan menjelaskan, MGC 2009 lalu, Tello Baru diwakili oleh RW I. Hanya saja dialihkan ke RW IX karena dinilai lebih maju. Semangat mengelola warganya lebih menonjol di wilayah ini. Sehingga, ini menjadi motivasi bagi warga untuk berpartisispasi dalam MGC 2010. "Daerah ini (RW IX, red) akan kita kembangkan ke depan," katanya, Senin, 21 Juni.

Fasilitator lingkungan RW IX Kelurahan Tello Baru, Siswo Zainuddin mengungkapkan, proses pembenahan lingkungan yang ia lakukan bersama warga lainnya, dilaksanakan secara bertahap. Tahapan-tahapan itu terpaksa dilakukan karena keterbatasan anggaran dan tentu saja keterbatasan tenaga. Memang, di RT 01, yang berlokasi di Jalan Taman Makam Pahlawan Lorong I, penduduknya dominan perempuan, sehingga untuk pekerjaan yang memerlukan tenaga, Siswo harus meminta bantuan ke tetangga RT-nya.

"Sejak ada MGC, saya dan warga perlahan-lahan berbenah. Alhamdulillah sudah bisa dilihat hasilnya sekarang. Dalam bekerja bakti, hampir semua warga terlibat. Kita usahakan RT ini menjadi contoh bagi RT lainnya," papar Siswo.

Hanya saja, pengorganisasian kader lingkungan belum begitu maju. Kreatifitas ibu-ibu yang biasanya dilakukan dalam bentuk daur ulang sampah atau barang bekas belum dijumpai di sini. Termasuk bank sampah yang baru ada satu. Warga, kata Siswo, masih mau menambahnya, tetapi terkendala di dana. Termasuk jalan yang terbuat dari paving juga mau dicat tetapi juga terkendala di finansial. (zuk)

Awalnya Susah Mengajak Warga

KELURAHAN Tello Baru mempersiapkan diri sebaik mungkin dalam Makassar Green and Clean (MGC) 2010. Berbagai pembenahan dilakukan, khususunya rukun warga (RW) IX yang memang baru pertama kali mengikuti even sejenis ini. Kendatipun baru pertama kali ikut, tetapi warga di wilayah ini berusaha maksimal menata lingkungan.

Fasilitator lingkungan RW IX, Siswo Zainuddin, mengatakan, sebelum mengikuti MGC 2010, sangat susah mengajak warga untuk menata lingkungan secara kolektif. Tetapi setelah disepakati untuk ikut dalam even ini, warga berubah menjadi antusias. Hal itu karena mereka perlahan-lahan mulai tersadar bahwa kebersihan dan penghijauan itu manfaatnya akan kembali ke warga itu sendiri.

"Dulu sebelum ada MGC, memang agak susah mengajak warga bekerja bakti. Tetapi setelah masuk, mereka sudah merespon dengan jalan giat membersihkan, termasuk membersihkan halaman rumahnya masing-masing," ujar Siswo, Senin, 21 Juni.

Memang, saat ini pembenahan lingkungan yang dilakukan oleh Siswo bersama warganya sudah mulai tampak. Khususnya di jalan Taman Makam Pahlawan Lorong I. Di ujung lorong, di sebelah barat, warga sudah membangun sebuag gapura yang terbuat dari bahan kayu. Gapura tersebut dicat dengan warna kuning dan hijau.

Melewati gerbang, di sisi kiri lorong berjejer pot yang digantung di tembok. Pot-pot tersebut ditumbuhi oleh bermacam-macam bunga. Tembok tersebut juga sudah dicat warna hijau. Di sebelah kanan lorong, terdapat taman mini yang juga ditumbuhi oleh aneka kembang dan tanaman obat-obatan. Seperti ginseng, sampar banyu, kumis kucing, cocor bebek, daun pandan, dan temulawak.

Kurang lebih 20 meter, terdapat lukisan di dinding lorong yang terbuat dari tembok. Lukisan tersebut menampilkan citra pemandangan alam. Berupa pepohonan, danau, dan pegunungan, serta langit. "Lukisan itu kami buat selama seminggu. Memang lama baru selesai," beber Siswo.

Siswo juga sudah memiliki keranjang takakura. Hal tersebut mendapat pujian dari motivator MGC 2010, Ahmad Igfar. Menurut Ahmad, masih ada beberapa hal yang harus dibenahi oleh warga RW IX. "Misalnya penambahan bank sampah karena baru ada satu unit," katanya. (zuk)

Wilayah "Seram" yang Hijau

BERBAGAI terobosan dilakukan untuk mengubah lingkungan. Kreatifitas diperlukan sebagai sebuah motivasi kepada warga dalam melakukan pembenahan lingkungan. Hal ini pula yang dilakukan Rukun Warga (RW) V, Kelurahan Lembo Kecamatan Tallo. RW V terdiri atas lima rukun tetangga (RT).

RW V merupakan satu-satunya wilayah di Kelurahan Lembo yang masuk 100 besar RW terbaik MGC 2010. Prestasi ini tentu memberikan kebangan tersendiri bagi warganya. Apalagi, keikutsertaan kali ini merupakan yang pertama kalinya. Tetapi walau baru pertama kali ikut dalam even green and clean, warga terlihat serius dalam menata lingkungan.

Lurah Lembo, H Samsul Badollahi, mengungkapkan, RW V mendapat kepercayaan sebagai duta dalam MGC 2010 karena kebersamaan warganya begitu kuat. Padahal sebelumnya ia pesimis mengikutkan wilayah ini karena dulu sering disebut kumuh. selain karena padat penduduk, di bagian barat RW V terdapat kanal. Di mana-mana, kanal sering menjadi sorotan karena sampahnya

"Di sini (RW V, red) kekompakan warganya bagus sekali. Terutama ibu-ibunya yang sangat antusias melaksanakan pengijauan dan kebersihan. Lalu bapak-bapaknya ikut juga," ujar Samsul, Senin, 21 Juni.

Wilayah yang menjadi prioritas dalam MGC 2010 antara lain RT 01 dan RT 02. Sedangkan RT 03, RT 04, dan RT 05 merupakan wilayah pendukung. Di RT 01 dan RT 02, program penghijauan terlihat galak dan semarak. Tepatnya di Jalan Pannampu II, yang terdiri atas lorong-lorong dan jalan setapak. Di kedua RT ini, hampir setiap sisi lorong terdapat jejeran pot yang ditumbuhi berbagai jenis bunga.

Ujung timur RW V berbatasan dengan kompleks perumahan dosen Unhas, Jalan Sunu. Sementara di ujung barat wilayah ini berbatasan dengan tempat pemakaman umum (TPU) Baroanging Pannampu. Hanya dipisahkan oleh kanal kecil. Tetapi kanal tersebut terlihat bersih saat Fajar melakukan pemantauan, Senin pagi, 21 Juni.

Warga yang tinggal di pinggir kuburan mengaku tidak lagi takut walaupun rumah mereka berhadapan langsung dengan pekuburan umum tersebut. Malah, mereka mengaku sering begadang karena membangun balai-balai tepat dipinggir kuburan.

"Saya tidak takutji. Di sini kan kuburan gaul, jadi hantu-hantunya juga gaul," canda Isma, salah seorang warga penghuni yang tinggal tepat di tepi kuburan.

Walaupun di tepi kuburan, Isma beserta warga lainnya, sama-sama menggalakkan penghijauan. Setiap rumah memiliki barisan pot yang ditumbuhi bunga. Bahkan beberapa warga membuatkan etalase khusus untuk kembang-kembang mereka.

"Saya sudah lama pelihara bunga karena memang sudah hobi. Bunga-bunga itu bisa jadi penenang di saat pusing. Salah satu bunga kambojaku sudah kupelihara delapan tahun," imbuh Isma menunjuk salah satu bunganya.

Memang, penghijauan sudah hampir merata. Hanya saja di RT 03, RT 04, dan RT 05, masih terlihat beberapa tumpukan sampah. Beberapa saluran pembuangan air atau drainase juga masih terlihat kotor dan tersumbat. (zuk)

Lembo; Dulu Kumuh Kini Hijau

MAKASSAR--Kelurahan Lembo Kecamatan Tallo punya misi untuk menjadi yang terbaik dalam Makassar Green and Clean (MGC) 2010. Hal itu bisa dilihat dari komitmen warganya, khususnya rukun warga (RW) V, yang antusias melaksanakan pembenahan lingkungan. Di RW ini, penghijauan dalam bentuk penanaman ratusan jenis kembang bisa disaksikan. Sebarannya pun hampir menyeluruh di setiap rukun tetangga (RT).

Padahal, beberapa tahun sebelumnya, wilayah ini juga terkenal karena kekumuhannya. Tetapi karena kesadaran untuk berubah menjadi lebih bersih, wilayah yang dulu kumuh kini seolah-olah telah disulap. Tak ada lagi kesan kumuh jika lingkungan telah hijau dan bersih. apalagi setiap rumah warga memiliki taman-taman bunga. Atau setidaknya memiliki koleksi kembang di pekarangan rumah mereka yang ditanam di pot.

Kader lingkungan RW V Kelurahan Lembo, Nurhaeda, menjelaskan, warga di kelurahannya memiliki semangat kerjasama yang baik. Hal itu yang menjadikan proses mobilisasi warga dalam MGC 2010 tidak begitu sulit. Muncul kesadaran mengenai indahnya hidup dalam lingkungan yang bersih nan hijau. "Semua orang pasti senang jika wilayahnya indah," katanya, Senin, 21 Juni.

Faktor mobilisasi warga secara kolektif memang sering menjadi kendala tersendiri, utamanya untuk kegiatan pembenahan lingkungan. Semakin masif warga terlibat, program pembenahan akan semakin sukses. Karena dengan kebersamaan, semua rintangan yang sifatnya tidak subtantif, akan bisa diatasi.

Motivator MGC 2010, Andi Nurdianza, mengungkapkan, persatuan warga di RW V tidak kalah dibandingkan daerah lainnya. Hal itu bisa dilihat dari kerelaan mereka untuk saling membantu dalam menanam bunga. "Perlu terus dikembangkan," sarannya.

Demikian halnya yang diutarakan Lurah Lembo, H Samsul Badollahi. Menurutnya, sebelumnya ia tidak pernah menyangka warganya akan begitu antusias dalam MGC 2010 ini. "Padahal awalnya saya cuma main-main. Apakah boleh masyarakat di sini (RW V, red) diikutkan dalam MGC 2010 ini. Ternyata mereka cukup merespon," tuturnya.

Sebetulnya Samsul meproyeksikan RW lainnya sebagai delegasi dalam MGC 2010. Ada tiga RW alternatif yang dipersaipkan, termasuk di ataranya RW V. Tetapi karena kerjasama dan kebersamaan lebih memungkinkan di RW V lebih bagus, sehingga wilayah ini yang dipilih. Bukan cuma itu, kesadaran yang relatif menyeluruh menjadi salah satu poin pembenaran tersendiri teantang kelayakan ikut dalam even MGC 2010.

RW V terdiri atas lima RT, yaitu RT 01, RT 02, RT 03, RT 04, dan RT 05. Daerah paling maju pembenahannya terletak di RT 01 dan 02. Sedangkan RT lainnya adalah wilayah pendukung dalam MGC 2010. RT 01 dan 02 terletak di Jalan Pannampu II. Di jalan lorong RT 01 dan RT 02, penghijauannya begitu semarak. Hampir semua sisi lorong dihiasi dengan tanaman berbagai jenis bunga. (zuk)

Lette Bangkit dari Kekumuhan

OLEH RIDWAN MARZUKI

KELURAHAN Lette, Kecamatan Mariso, ingin membuktikan mampu bersaing dalam Makassar Green and Clean (MGC) 2010. Satu langkah telah terlewati karena telah berhasil masuk dalam 100 besar rukun warga (RW) terbaik MGC 2010. Hal ini menjadi modal besar untuk membangkitkan semangat warganya dalam menata dan menghijaukan wilayah.

Selama ini, Kelurahan Lette merupakan salah satu wilayah yang sering diasosiasikan sebagai permukiman kumuh dan kotor. Belum lagi karena beberapa bagian wilayah Lette adalah pinggiran pantai. Ditambah kepadatan penduduk yang bermukim di wilayah ini semakin memperlengkap kesan kumuh tersebut. Kesan yang tentu saja semua orang tidak menyukainya.

Ketua RW V Kelurahan Lette, Rusman Lero, menjelaskan, ekspektasi warganya begitu besar untuk keluar dari stigma itu. Dan, MGC 2010 ini diharapkan bisa menjadi penggugah sekaligus menyadarkan warganya untuk memperbaiki lingkungan dalam bentuk pengorganisasian sampah, pembersihan lingkungan, dan juga penghijauan berupa penanaman aneka pepohonan dan kembang-kembang.

"Sejak awal masuk (MGC 2010, red), kita sudah berbenah. Tetapi pembenahan memang butuh waktu karena masyarakat beda-beda pemahamannya tentang lingkungan. Tidak semua sama karakternya. Jadi perlu kesabaran dalam menghadapinya," ungkap Rusman, Minggu, 20 Juni.

Tetapi stigma kumuh itu sebetulnya secara perlahan-lahan mulai disingkap oleh kelurahan ini, khususnya warga yang bermukim di RW V, Rukun Tetangga (RT) 05 dan RT 06. Di kedua RT ini, warga sudah menerapkan penghijauan dalam bentuk penanaman secara semarak aneka bebungaan. Wilayah inilah yang menjadi duta dari Kelurahan Lette dalam MGC 2010.

"Memang di sini daerah kumuh. Makanya kita butuh perhatian khusus dari pemerintah kalau mau lebih cepat pembenahannya. Masyarakat masih ada yang acuh tak acuh menalankan program ini. Proses penyadaran masyarakat di sini agak lambat," ujar Rusman.

Motivator MGC 2010, Irdayani, menilai wilayah ini sudah mengalami perubahan sejak ikut berkompetisi dalam even ini. Walau di bebrapa sisi, masih ada bebrapa hal yang harus dibenahi dan dilengkapi. Misalnya optimalisasi keranjang sampah Takakura. Keranjang Takakura merupakan wadah pengelolaan sampah basah menjadi pupuk kompos. (*)

Bentuk Kelompok Peduli Lingkungan

WARGA Kelurahan Lette, Kecamatan Mariso, tidak memasang target muluk-muluk dalam Makassar Green and Clean (MGC) 2010. Warga, khususnya di Rukun Warga (RW) V, hanya ingin menjadikan MGC 2010 sebagai momentum melahirkan kesadaran kolektif sehingga proses pembenahan lingkungan bisa berlangsung menyeluruh.

Hanya saja pemerintah, khususnya lurah, diimbau agar senantiasa turun melihat persoalan yang terjadi terkait pengelolaan sampah dan pembenahan lingkungan dalam bentuk penghijauan. Warga menghendaki agar minimal setiap minggu didatangi oleh lurahnya supaya mereka termotivasi dalam mengikuti MGC 2010.

"Mereka merasa diperhatikan jika pemerintah datang mengunjungi. Oleh karena itu masyarakat meminta agar lurah rutin bersilaturahmi. Tapi kita maklumi, mungkin banyak kesibukannya," terang Ketua RW V Kelurahan Lette, Rusman Lero, Minggu, 20 Juni.

Rusmin menjelaskan, dalam MGC 2010 ini, warganya tidak menargetkan juara. Tetapi walau begitu, warga di wilayahnya tetap melakukan kerja bakti, seperti saat Fajar dan motivator MGC 2010, Irdayani, berkunjung ke wilayah ini. Mereka baru saja melaksanakan kerja bakti dan membersihkan drainase. Kawasan yang masuk menjadi unggulan dalam MGC 2010 adalah Rukun Tetangga (RT) 05 dan RT 06. Ada delapan RT dalam wilayah RW V.

Walau kesadaran lingkungan warga agak lambat, tetapi perubahan perilaku, utamanya untuk hidup bersih sudah mulai terlihat.

Di RW V ini, warga sudah membentuk kelompok peduli lingkungan. Warga menyebutnya Kelompok Peduli Lingkungan Anggrek. Mereka yang tergabung dalam kelompok ini yang mengorganisasi program MGC 2010.

Memang beberapa hal masih harus dibenahi oleh warga wilayah ini. Seperti maksimaliasi keranjang Takakura, pembuatan komposter, pembuatan lubang biopori, daur ulang barang bekas, dan lainnya. Namun, khusus untuk bank sampah, mereka sudah memilikinya. Bank sampah tersebut diletakkan di Jalan Rajawali Lorong 10 C.

Rusman menambahkan, mayoritas penduduk Kelurahan Lette khususnya RW V berprofesi sebagai buruh, seperti buruh harian pabrik, kuli bangunan, buruh serabutan, tukang cuci, pengamen, pedagang asongan, dan lainnya. (ridwan)

Drainase Bersih dan Lancar

GELIAT kebersihan dan penataan lingkungan perlahan-lahan dilakukan oleh warga Kelurahan Melayu Kecamatan Wajo, khususnya di Rukun Warga (RW) IV. Warga di wilayah ini mulai sadar untu membenahi lingkungan, apalagi sejak ditetapkan sebagai salah satu wilayah yang masuk 100 besar RW terbaik Makassar Green and Clean (MGC) 2010.

Fasilitator lingkungan RW IV, Natsir Tayyeb, menjelaskan penataan lingkungan untuk menyambut MGC 2010 sudah dimulai sejak Maret dan April lalu. Warga bersama Plt Lurah Melayu menggelar rapat membahas program-program yang memungkinkan sesuai dengan kemampuan, karakter, dan kondisi wilayah RW IV. Termasuk membahas anggaran yang akan dipakai. Itu dilalukukan supaya seluruh program terencana berjalan lancar.

"Saya bersama warga di sini menggalang dana untuk membiayai program ini. Untuk cat, kita pakai cat genteng yang harganya Rp 280 ribu per kaleng. Kita sudah menghabiskan 20-an kaleng," ujar Natsir, Minggu, 20 Juni.

Jalanan yang dicat oleh warga RW IV adalah Jalan Diponegoro Lorong 227 A. Panjang lorong ini mencapai 200-an meter.

Warga rukun tetangga (RT) 03 dan RT 04 memang memperindah jalan dengan cat berwarna-warni, seperti hijau, merah, dan biru. "Warna-warna ini adalah simbol alam," tambah Natsir.

Di sepanjang jalan lorong tersebut, saluran air atau drainase terlihat bersih. Walaupun drainase tersebut terbilang sempit, tetapi aliran airnya cukup lancar. Tidak ada kotoran atau sampah yang terlihat saat Fajar melakukan pemantuan.

Di sisi kiri dan kanan lorong digantung pot-pot yang ditumbuhi bebungaan. Posisinya berjejer dan dihiasi dengan pita panjang aneka warna. Di ujung lorong akan ditemukan sebuah bank sampah yang tampaknya baru saja dicat.

Ketua RW IV Kelurahan Melayu, Yusuf, mengaku berterimakasih kepada warganya yang memiliki kesadaran untuk membersihkan dan menata lingkungan. Ia pun bersama dengan kader lingkungan lainnya tidak memaksakan kepada warga terkait dengan pengecatan pagar dan tembok lorong. (ridwan)

Warga Melayu Saling Sumbang Bunga

OLEH RIDWAN MARZUKI

MAKASSAR -- Persatuan warga Kelurahan Melayu, Kecamatan Wajo, khususnya rukun warga (RW) IV dalam menyambut Makassar Green and Clean (MGC) 2010, terbilang tinggi. Pembenahan lingkungan mereka lakukan secara kolektif sebagai implementasi kepedulian mereka terhadap kebersihan dan keindahan lingkungan.

Secara bersama-sama, warga membenahi lingkungan sekitarnya walaupun dalam kondisi keterbatasan anggaran. Memang, sedikit banyaknya pembenahan lingkungan memerlukan dana. Tetapi kendala tersebut tidak terlalu menghambat motivasi warga untuk menata wilayah. Melalui kerja sama, semua bisa terselesaikan. Begitu prinsip yang warga setempat pegang. Kekurangan bisa ditutupi dengan saling membantu.

Fasilitator lingkungan RW IV Kelurahan Melayu, Natsir Tayyeb, menjelaskan, untuk menutupi kekurangan bunga-bungaan, warga melakukan kerja sama. Caranya mereka saling membantu antar tetangga. Tujuannya agar bunga-bungaan tersebut dipajang di sepanjang wilayah agar terlihat hijau. Apalagi, di pintu masuk RW IV, tidak ada rumah yang mengahadap langsung ke jalanan.

Sebelum sampai ke belokan pertama, panjang jalan ini mencapai kurang lebih 50 meter. Di sepanjang jalan inilah berjejer bung-bungaan hasil sumbangan warga setempat. "Bunga-bunga disiapkan oleh warga. Setiap kepala keluarga menyumbang bunga," kata Natsir, Minggu, 20 Juni.

RW IV terdiri atas empat rukun tetangga (RT). Yakni RT 01, RT 02, RT 03, dan RT 03. Secara demografis, RT 03 dan 04 yang lebih maju. Oleh karenanya warga stempat menjadikan kedua RT ini sebagai RT unggulan. RT 01 dan RT 02 merupakan RT pendukung. Kedua RT ini berada di Jalan Diponegoro. Tepatnya di Lorong 221 A dan Lorong 331.

Bukan cuma kebersihan yang diperhatikan, tetapi juga keamanan. Hal tersebut bisa dilihat dari banyaknya gerbang yang harus dilwati sebelum masuk lorong. Gerbang berlapis dan dilengkapi dengan pagar terali besi tidak jauh dari gapura masuk RT 03 dan RT 04.

"Jam 12 malam sudah ditutup karena faktor keamanan. Selain itu, biasa ada penjambret yang lari masuk ke dalam jika habis menjambret," tambah Natsir.

Memang, RW IV, jaraknya tidak begitu jauh dari Makassar Mall. Di kawasan ini sering dijumpai penjambret. Oleh karena itu pagar besi dibuat untuk meminimalisasi ruang pelarian penjambret yang sering menggunakan wilayah ini sebagai "perlindungan" saat dikejar polisi dan warga.

"Tetapi masyarakat yang pulang bekerjanya malam, kita beri kunci duplikat. Jadi bisa membuka sendiri pagar walau terkunci," imbuh Natsir.

Terkait kerja sama, warga RW IV memang solid. Setiap Minggu mereka kerja bakti, seperti pembersihan jalan dan saluran air. Hal tersebut juga diakui oleh wakil ketua RW IV, Zainuddin.

"Kita bersatu bergotong-royong dalam membersihkan. Kerukunan masyarakat di sini sangat kental. Satu sama lain selalu saling menolong," ungkap Zainuddin di sela-sela kerja bakti mengecat jalan lorong. (*)

Diva Sakinah Utamakan Kenyamanan Jamaah

MAKASSAR -- Biro perjalanan haji dan umrah, Diva Sakinah, kembali akan memberangkatkan calon jemaah umrah pada Juni dan Juli. Jemaah yang akan diberangkatkan maksimal 96 orang agar kenyamanan jemaah tetap terjaga.

Direktur Diva Sakinah, Irwati Slamet, menjelaskan, pemberangakatan calon jemaah umrah dibatasi maksimal dua bus. Satu bus terdiri atas 48 calon jemaah umrah. "Pembatasan kami lakukan demi menjaga pelayanan kepada para calon jemaah," kata Irwati di sela-sela manasik umrah yang dilaksanakan di kantor PT Diva Sakinah, Jalan Daeng Ngeppe, Sabtu, 19 Juni

Dibanding tahun lalu, kata Irwati, terjadi peningkatan jemaah umrah hingga 300 persen. Peserta yang mengikuti manasik merupakan calon jemaah umrah yang akan berangkat pada 22 Juni dan 1 Juli. Selain itu, rencananya, masih akan diberangkatkan 6 Juli, 24 Juli, dan 1 Agustus.
Mereka terdiri dari calon jemaah umrah reguler dan umrah plus. Untuk umrah plus, ada dua tujuan pemberangkatan yakni, Turki dan Jerussalem-Amman. Habib Alwi Bafaqih menjadi pemberi nasehat umrah.

Irwati menjamin, seluruh pemberangkatan calon jemaah umrah akan berlangsung tepat waktu. "Biro perjalanan kami beda dengan biro perjalanan umrah lainnya. Alhamdulillah, pemberangkatan Diva Sakinah selalu tepat waktu, tidak pernah mengalami penundaan atau mengulur waktu," imbuhnya

Untuk umrah plus Turki, berbagai layanan wisata religi ditawarkan dalam program ini, khususnya mengunjungi wilayah-wilayah bersejarah di negara itu. Misalnya, mengunjungi Blue Mosque yang terkenal dengan keramik birunya, serta memiliki enam menara.

Ada juga Hippodrome, merupakan bekas kediaman resmi dinasti Ottoman selama 800 tahun. Jemaah juga mengunjungi Topkapi Palace, tempat melihat beberapa barang peninggalan Rasulullah saw, dan St Shopia, peninggalan arsitektur terbaik zaman Byzantium, serta beberapa tempat lainnya.

Sementara untuk paket umrah plus Al Aqsa, calon jemaah umrah akan mengunjungi Masjid Al Aqsa di Jerussalem, tempat kelahiran Nabi Isa di Bethlehem, tembok ratapan kaum Yahudi (Wailling Wall), makam Salman Al Farizi dan Rabiah Al Adawiyah di Bukit Zaitun. Juga makam Nabi Musa, serta beberapa tempat bersejarah lainnya. (zuk)

Mau Kuliah di Jawa, SNMPTN di Makassar

MAKASSAR--Tahapan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) di Universitas Negeri Makassar (UNM) masih berlanjut, Sabtu, 19 Juni. Lebih kurang 3000-an peserta ujian SNMPTN mengikuti lanjutan tes keterampilan di Kampus UNM Banta-bantaeng.

Ketua Panitia Lokal SNMPTN UNM, Prof Dr Sofyan Salam menjelaskan, secara umum ujian SNMPTN telah berakhir 17 Juni lalu. Hanya saja, khusus untuk jurusan olahraga dan kesenian harus menjalani lagi ujian khusus, yakni tes keterampilan. Tes ini diperkirakan berlangsung dua hari mengingat banyaknya peserta.

"Tes keterampilan khusus untuk yang memilih olahraga. Ada 3.783 peserta yang ikut tes itu," terang Sofyan, saat ditemui di ruang kerjanya, Sabtu, 19 Juni.

Dari jumlah pesrta tersebut, 12 orang peserta di antaranya merupakan peserta jurusan kesenian yang memilih perguruan tinggi di Pulau Jawa. Ke-12 orang peserta ujian tersebut, terdiri atas satu peserta jurusan seni tari, empat orang jurusan seni musik, dan tujuh orang jurusan seni rupa. Hanya saja, Sofyan belum mengetahui, universitas apa saja yang dipilih oleh ke-12 orang tersebut. "Hanya satu orang yang kita tahu, yakni akan lanjut di Universitas Negeri Malang," bebernya.

UNM sendiri tidak membuka pendaftaran untuk jurusan kesenian tahun ini. Hanya saja harus melayani pendaftar jurusan kesenian yang akan kuliah di Pulau Jawa karena hanya UNM, perguruan tinggi negeri (PTN) yang memiliki jurusan kesenian. Oleh karena itu UNM tetap memeberikan kesempatan kepada peserta untuk tetap mengikuti seleksi yang memilih PTN luar Makassar.

Sofyan beralasan, jurusan kesenian tidak membuka pendaftaran tahun ini karena banyaknya dosen di jurusan ini yang melanjutkan pendidikan. "Jadi dipikir lebih baik tidak dibuka karena dosennya tidak bisa mengajar," katanya.

Ditanya kapan jurusan kesenian menerima pendaftar lagi, Sofyan mengaku keputusan ada di tingkat senat fakultas. "Karena jika dibuka sementara tidak berlangsung bagus, lebih baik jika ditunda dulu," tandasnya.

Pelaksanaan tes keterampilan untuk jurusan olahraga, diakui Sofyan akan berlangsung Sabtu-Minggu, 19-20 Juni. "Tidak mungkin dites hanya satu hari karena pesertanya banyak. Tesnya praktek di lapangan, jadi memerlukan waktu," imbuhnya.

Untuk hari pertama tes praktek, khususnya jurusan olahraga, ditargetkan selesai 2000 peserta dan selebihnya pada hari kedua. "Setelah itu (tes praktek, red), mereka tinggal menunggu pengumuman 17 juli nanti," ujarnya.

Terkait proses pengolahan nilai hasil ujian praktek peserta, Sofyan menjelaskan, segera setelah ujian trsebut dilaksanakan, data hasilnya segera dikombinasikan dengan hasil ujian teori. Kombinasi hasil kedua jenis ujian tersebut yang menetukan kelulusan peserta SNMPTN. "Ujian teori dan prkatek, bobotnya fifty-fifty," pungkasnya.

Sebagai catatan, jurusan olahraga UNM hanya akan menerima 80 mahasiswa baru. Hal ini tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Ini disebabkan, kata Sofyan, terbatasnya fasilitas termasuk keterbatasan tenaga pendidik. "Jadi tidak mungkin menambah kuota banyak," katanya.

Sementara di Universitas Hasanuddin (Unhas), ujian SNMPTN hanya berlangsung dua hari, yakni 16-17 Juni. "Di Unhas, tesnya hanya dua hari. Sudah selesai 16-17 Juni lalu. Kecuali UNM, masih ada tes keterampilannya. Sekarang sisa menunggu pengumuman," terang Kepala Humas Unhas, M Dahlan Abubakar. (zuk)