Jejak Panjang Masuknya Tionghoa di Makassar
Masyarakat Tionghoa baru saja merayakan Imlek. Di Sulsel, mereka menorehkan sejarah panjang peradaban.
Hubungan kebudayaan antara masyarakat Sulawesi Selatan dan warga Tionghoa bukanlah fenomena baru. Jejaknya bahkan telah tercatat sejak masa lampau, jauh sebelum terbentuknya kerajaan-kerajaan di Sulawesi.
Salah satu manuskrip sejarah adalah kisah klasik I Lagaligo yang menjadi fondasi peradaban Bugis-Makassar. Dalam epos itu terdapat kisah perkawinan tokoh utama dengan putri dari Tiongkok yang menjadi penanda awal relasi kebudayaan Sulsel dan Tionghoa.
“Hubungan kebudayaan Tionghoa itu dimulai dari kisah Lagaligo. Di situ diceritakan nenek moyang kita kawin dengan Putri Tionghoa yang disebut We Cudai,” urai budayawan Sulsel, Asmin Amin, Eabu, 17 Februari 2026.
Sejak peristiwa itulah, proses pembauran budaya terus bergulir dan meninggalkan jejak kuat di berbagai wilayah di Sulsel. Pembauran itu tidak hanya terjadi di pusat-pusat kekuasaan, tetapi juga di daerah kepulauan dan pesisir.
“Budaya Tionghoa itu sudah menyatu dengan kita. Jejaknya ada di Selayar, ada di mana-mana, bahkan sampai ke Kalimantan,” lanjutnya.
Selain melalui perkawinan, relasi budaya juga diperkuat lewat jalur perdagangan. Kota Makassar menjadi simpul utama hubungan dagang antara nusantara dan Tiongkok melalui jalur sutra maritim.
Pengaruh itu telah mendarah daging dan tampak dalam keseharian masyarakat, termasuk dalam kosakata lokal.
Sejumlah kata dalam bahasa Makassar dan Bugis disebut berasal dari bahasa Tionghoa. Misalnya kantong, loteng, canteng, dan lainnya.
Meski demikian, proses pembauran belum sepenuhnya berjalan ideal. Salah satu penghambat utama adalah faktor ekonomi dan kekuatan modal yang menciptakan sekat sosial.
“Karena kekuatan uang, pembauran itu jadi terhambat. Ada kelompok yang tidak membaur, bahkan menciptakan sekat sendiri,” kata Asmin.
Fenomena kawasan eksklusif seperti PIK 1 dan 2 dinilainya memperlihatkan dominasi ekonomi tanpa diiringi pembauran budaya. Namun, di Sulsel sendiri, proses pembauran relatif lebih baik dibanding daerah lain.
Kepulauan Selayar dan Takalar, misalnya, memiliki sejarah panjang perkawinan lintasetnis. Tak ada sekat, sehingga banyak orang Selayar dan Takalar yang menikah dengan warga Tionghoa.
Karakter Selayar sebagai wilayah pelayaran turut memengaruhi proses tersebut. Banyak pelaut dari berbagai bangsa yang singgah dan akhirnya menetap serta menikah dengan penduduk setempat.
“Selayar itu tempat pelayar-pelayar singgah. Banyak yang akhirnya kawin dengan penduduk lokal, dari situlah pembauran itu kuat,” kata Asmin.
Asmin juga menyinggung peristiwa 1997–1998 di Makassar yang menurutnya dipicu oleh lemahnya pembauran sosial di sejumlah wilayah. Tentu saja, kondisi saat ini jauh lebih baik, meski belum sepenuhnya ideal.
“Sekarang sudah lebih positif, tapi memang belum sepenuhnya. Masih ada anak-anak muda yang belum membaur,” ujarnya.
Pengaruh kebudayaan Tionghoa juga sangat terasa dalam seni dan budaya populer Sulsel, khususnya di Makassar.
Sejumlah lagu daerah Makassar terinspirasi dari unsur musik Tionghoa.
“Lagu-lagu Makassar seperti Sailong dan Sumbang Kacaya, itu musiknya dipengaruhi budaya Tionghoa,” jelasnya.
Tak hanya musik, para seniman keturunan Tionghoa juga disebut banyak mewarnai perkembangan seni, termasuk film dan karya budaya lainnya di Sulsel. Karena itu, kesadaran sejarah penting agar dapat menjadi dasar memperkuat pembauran sosial ke depan, mengingat hubungan antara masyarakat Sulsel dan Tionghoa pada dasarnya telah terjalin erat sejak ratusan tahun silam.
Kini Setara
Keberadaan Tionghoa di Sulsel bisa dikatakan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan sejarah daerah ini. Saat ini, kehidupan mereka telah mengalami perubahan besar, terutama jika membandingkan masa lalu dan sekarang.
Pada masa lalu masyarakat Tionghoa hidup dengan berbagai keterbatasan, termasuk adanya stigma sosial dan diskriminasi. Hal itu tidak terlepas dari sejarah panjang, saat Tionghoa mengalami tekanan sosial dan konflik, terutama pada periode 1965-1997, yang memengaruhi kehidupan sosial dan ekonomi mereka.
Pada era tersebut, banyak masyarakat Tionghoa cenderung menutup diri demi menjaga keamanan. Selain itu, kebijakan Orde Baru dan kondisi sosial saat itu membuat mereka harus beradaptasi dengan lingkungan yang terkadang belum sepenuhnya menerima keberagaman.
Akan tetapi, anggota Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Sulsel perwakilan Tionghoa, Miguel, menilai kondisi saat ini jauh berbeda. Tionghoa kini dapat hidup lebih terbuka, terlibat dalam berbagai sektor, termasuk pemerintahan, pendidikan, dan kegiatan sosial kemasyarakatan.
“Partisipasi ini menunjukkan adanya kemajuan dalam proses pembauran dan penerimaan lintas budaya,” ucap Miguel.
Meski demikian, tantangan tetap ada, terutama dalam menjaga identitas budaya sekaligus membangun kebersamaan. Komunikasi dan keterlibatan aktif dalam kegiatan masyarakat menjadi kunci untuk menjaga keharmonisan.
Keharmonisan lintas budaya di Sulsel tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses panjang. Salah satu perekatnya adalah penggunaan bahasa daerah dan interaksi sosial sehari-hari, yang memperkuat hubungan antara masyarakat Tionghoa dan etnis lokal seperti Bugis dan Makassar.
“Keberagaman bukanlah hambatan, melainkan kekuatan yang menjadikan Sulawesi Selatan sebagai daerah yang kaya budaya dan harmonis, di mana setiap etnis memiliki peran dalam membangun masa depan bersama,” ucapnya.
Sekretaris Yayasan Sosial Sapta Mulia dari Yayasan Thoeng Abadi Makassar, Hasdy, menjelaskan asyarakat Tionghoa datang ke Sulsel sejak berabad-abad lalu.
Mereka datang sebagai pedagang dan mulai menetap di kawasan pesisir Makassar, bahkan sejak Abad ke-14 dan ke-15. Mereja membawa berbagai barang dagangan dan menjalin hubungan ekonomi dengan penduduk lokal.
“Seiring waktu, masyarakat Tionghoa tidak hanya berdagang, tetapi juga berperan dalam pembangunan kota,” ucapnya.
Saat ini, warga Tionghoa di Sulsel menjadi bagian penting dalam aktivitas ekonomi, termasuk perdagangan dan usaha, yang ikut menggerakkan perkembangan Makassar sebagai kota pelabuhan dan pusat ekonomi.
“Selain itu, hubungan antara masyarakat Tionghoa dan warga lokal juga dibangun melalui interaksi sosial dan kepemimpinan komunitas, seperti peran kapitan Tionghoa yang menjadi penghubung antara komunitasnya dengan pemerintah dan masyarakat luas,” ucapnya.
Sehingga peran ini memperkuat hubungan sosial dan membantu menjaga stabilitas di tengah masyarakat multietnis. Ia berharap, generasi sekarang dapat terus menjaga nilai toleransi dan kebersamaan yang telah dibangun.
Bahagia
Diterima
laksana
Saudara
Hidup sebagai bagian dari masyarakat Tionghoa di Sulsel memiliki dua sisi yang berjalan beriringan. Di satu sisi, rasa aman dan penerimaan sosial masih kuat dirasakan.
Di sisi lain, bayang-bayang stereotipe dan anggapan sebagai “orang luar” belum sepenuhnya hilang. Florensia (27), warga Tionghoa asal Bone yang kini menetap di Makassar, mengaku selama ini cukup merasakan kehidupan sosial yang harmonis dengan masyarakat sekitar.
Lingkungan tempat tinggal, sekolah, hingga dunia kerja, menurutnya, relatif terbuka dan tidak memperlihatkan perlakuan diskriminatif secara langsung.
“Banyak tetangga, teman sekolah, dan rekan kerja yang memperlakukan saya dengan biasa saja, tidak ada perbedaan berarti,” ujar Florensia.
Ia menilai budaya gotong royong dan kekeluargaan yang kuat di Sulsel menjadi faktor penting terciptanya rasa aman dan nyaman bagi warga Tionghoa. Nilai kebersamaan membuat relasi sosial lintas etnis dapat terjalin secara alami dalam kehidupan sehari-hari.
“Budaya gotong royong dan rasa kekeluargaan di Sulsel itu kuat sekali. Itu yang bikin saya sering merasa aman dan nyaman,” katanya.
Meski demikian, Florensia tidak menampik masih adanya tantangan sosial yang kerap muncul, terutama dalam bentuk stereotipe. Ia mengaku masih sesekali dipandang sebagai pihak yang berbeda, baik dari segi ekonomi, agama, maupun latar budaya.
“Kadang masih ada yang melihat saya sebagai ‘orang luar’, atau langsung berasumsi kalau orang Tionghoa itu pasti kaya, pasti punya usaha,” ucapnya.
Stereotipe itu sering kali tidak diucapkan secara terbuka, tetapi terasa dalam percakapan atau sikap tertentu.
Hal ini menunjukkan bahwa proses pembauran sosial, meskipun sudah berjalan, belum sepenuhnya tuntas.
Florensia berharap, ke depan masyarakat bisa makin melihat warga Tionghoa sebagai bagian utuh dari komunitas lokal, bukan sebagai kelompok yang terpisah.
Interaksi sehari-hari dan keterbukaan menjadi kunci untuk mengikis prasangka yang masih tersisa.
“Pada dasarnya kami hidup, bekerja, dan berkontribusi di tempat yang sama. Harapannya, ke depan tidak lagi dilihat sebagai perbedaan,” pungkasnya.
Pengalaman serupa juga dirasakan Edlyn (20), warga Tionghoa yang tumbuh besar di Sulsel. Ia menggambarkan kehidupannya sebagai upaya menyeimbangkan dua kebudayaan yang sama-sama melekat kuat.
“Kalau boleh jujur, hidup sebagai orang Tionghoa di Sulawesi Selatan itu rasanya seperti berdiri di dua dunia sekaligus,” kata Edlyn.
Sejak kecil ia tumbuh dengan tradisi keluarga seperti perayaan Imlek dan kebiasaan turun-temurun di rumah.
Namun, saat yang sama, ia juga sangat akrab dengan budaya lokal Sulsel, mulai dari musik, makanan, logat, hingga cara bercanda.
“Sehari-hari saya merasa cukup diterima. Teman-teman banyak yang baik, bahkan beberapa sudah seperti saudara sendiri,” ujarnya.
Meski begitu, masih ada candaan atau pertanyaan yang terdengar ringan, tetapi menyisakan rasa sebagai pihak yang berbeda.
“Seperti dibilang, ‘Kamu kan orang Tionghoa, pasti jago dagang,’ atau ‘Pasti keluargamu kaya, ya?’ Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu,” katanya.
Ia juga merasakan adanya tekanan sosial untuk selalu bersikap baik dan berhati-hati, seolah-olah membawa identitas etnis ke mana pun pergi. Sisi positifnya, dia merasa harus selalu tampil baik, tidak bikin masalah, tidak menonjol negatif.
Di balik itu semua, Edlyn menuturkan ada banyak momen hangat yang membuatnya merasa benar-benar diterima sebagai bagian dari masyarakat.
“Ketika tetangga datang bantu tanpa diminta, ketika teman lokal bilang ‘kau itu sudah sama saja dengan kita’, atau ketika kami kumpul bersama tanpa mempersoalkan etnis masing-masing,” tuturnya.
Pengalaman-pengalaman kecil itulah yang perlahan menegaskan makna rumah baginya. “Momen-momen seperti itu membuatku merasa bahwa rumah bukan soal darah atau marga, tapi soal siapa yang menerimamu,” pungkasnya. (an-wis/zuk)
Jejak Tionghoa
dalam Histori Sulsel
Sejarah Masuk
-Sejak Abad XIV-XIV
-Versi I Lagaligo: sebelum Abad XIII
-Mereka datang sebagai pedagang
-Membawa sutra dan keramik
-Membangun Pecinan (China Town)
-Tionghoa lebih duluan datang dibandingkan VOC
Sebelum Masehi
-Tionghoa telah tiba di Sulsel sebelum masehi
-Gong Nekara di Selayar jadi bukti
-Benda itu merupakan peninggalan prasejarah zaman perunggu (sekitar 500-100 SM)
Mulai di Pesisir
-Awal datang, Tionghoa memilih kawasan pesisir Makassar
-Sekarang berada di Jl Nusantara, Jl Sulawesi, Jl Sangir
-Aktivitas dagang mengandalkan maritim
-Diterima oleh Kerajaan Gowa-Tallo
-Kerajaan menerapkan sistem pasar bebas, sehingga Makassar terbuka untuk dunia
Masa Akulturasi
-Tionghoa mulai bermukim
-Interaksi sosial berkembang
-Asimilasi terjadi
-Perkawinan silang membentuk Tionghoa peranakan
Jejak Dagang
-Mie
-Dacin (timbangan)
-Nyukyang
-Bakpau
Tempat Ibadah
-Klenteng Xian Ma jadi kelenteng tertua di Makasar
-Hingga kini masih berdiri
-Beberapa kali telah direnovasi
Sumber: Koran FAJAR edisi Kamis, 18 Feb 2026


Komentar
Posting Komentar